RADARTUBAN – Timnas Indonesia datang ke laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 dengan satu modal yang sulit diabaikan: rekor historis yang lebih berpihak kepada Garuda.
Bangladesh sudah tujuh kali menjadi lawan Indonesia. Dan hasilnya Merah Putih mengantongi empat kemenangan, dua imbang, serta hanya sekali kalah.
Namun, sejarah bukan tiket otomatis menuju kemenangan. Justru di sinilah laga Indonesia vs Bangladesh menjadi berbahaya.
Tim asuhan John Herdman membutuhkan hasil maksimal dalam pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Kamis (1/10), untuk menjaga peluang melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026.
Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi empat poin sebelum laga terakhir, dengan Malaysia unggul dalam selisih gol dan jumlah gol.
Baca Juga: Herdman Bongkar Realita Timnas Indonesia: Baru 16 Caps, tapi Suporter Sudah Tuntut Juara
Garuda Lebih Dominan
Dalam tujuh pertemuan, Indonesia mencetak 12 gol dan hanya kebobolan empat kali. Garuda juga mencatat empat clean sheet.
Pertemuan pertama terjadi pada Merdeka Tournament 1975. Indonesia langsung menunjukkan dominasinya dengan kemenangan telak 4-0.
Setelah itu, Garuda kembali menang 2-1 pada 1984 dan 2-0 pada Kualifikasi Piala Dunia 1986.
Satu-satunya kekalahan Indonesia terjadi pada 2 April 1985. Saat itu Bangladesh menang 2-1 dalam Kualifikasi Piala Dunia 1986.
Jangan Terjebak Rekor Lama
Catatan sejarah memang terlihat mengilap, tetapi pertemuan terakhir justru berakhir antiklimaks. Indonesia ditahan Bangladesh 0-0 dalam laga persahabatan pada 1 Juni 2022.
Artinya, Garuda tidak bisa sekadar mengandalkan statistik masa lalu. Apalagi FIFA mencatat tiga tim masih bersaing memperebutkan tiket ke final pada hari terakhir Grup A.
Indonesia dan Malaysia mengoleksi empat poin, sedangkan Singapura hanya tertinggal satu angka.
Laga Indonesia vs Bangladesh pun bukan sekadar duel mempertahankan gengsi. Ini pertaruhan terakhir Garuda di fase grup. Rekor boleh memihak, tetapi 90 menit di SUGBK tetap menjadi penentu.
Dan kali ini, angka-angka lama harus dibuktikan kembali di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni