RADARTUBAN — Final FIFA ASEAN Cup 2026 bukan sekadar pertandingan perebutan trofi bagi Timnas Indonesia.
Laga melawan Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senin (5/10) malam, menjadi final ketujuh Indonesia dalam sejarah turnamen antarnegara ASEAN.
Masalahnya, enam final sebelumnya berakhir tanpa gelar. Lebih menyakitkan lagi, Thailand menjadi lawan yang paling sering muncul dalam episode pahit tersebut. Kini, Indonesia kembali berhadapan dengan Thailand.
Baca Juga: Pesta Gol! Timnas Indonesia Amankan Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Setelah Bantai Bangladesh
Sejarah seolah sengaja membuka luka lama untuk melihat apakah skuad Garuda akhirnya mampu menutupnya dengan trofi.
Enam Final, Enam Kali Gagal
Catatan Indonesia di partai puncak turnamen ASEAN memang getir.
Pada final Piala AFF 2000, Indonesia kalah 1–4 dari Thailand. Dua tahun berselang, Indonesia kembali menghadapi Thailand. Laga berakhir 2–2 sebelum Garuda kalah 2–4 melalui adu penalti.
Tahun 2004, Singapura menjadi penghalang. Indonesia kalah dengan agregat 2–5. Enam tahun kemudian, Malaysia menghentikan langkah Indonesia dengan agregat 2–4.
Thailand kembali muncul pada final 2016. Indonesia kalah agregat 2–3. Empat tahun berselang, Thailand kembali membuat Garuda tak berkutik setelah menang agregat telak 2–6. Enam final. Enam kegagalan.
Thailand Lagi, Indonesia Punya Kesempatan Membalik Cerita
Kini skenarionya kembali berulang. Thailand berdiri di seberang lapangan sebagai lawan terakhir Indonesia menuju gelar FIFA ASEAN Cup 2026.
Namun, final ketujuh ini juga membawa konteks berbeda. Indonesia tampil di kandang sendiri dengan dukungan penuh publik SUGBK.
Di sisi lain, Thailand datang sebagai tim yang punya sejarah panjang menghadapi Indonesia di laga-laga besar.
Justru di situlah tekanan terbesar berada. Indonesia tidak hanya mengejar kemenangan 90 menit.
Tim besutan pelatih John Herdman sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih besar: memutus rangkaian kegagalan yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.
Malam Penentuan di SUGBK
Kini semua catatan itu harus disisihkan sejenak. Di atas rumput SUGBK, Indonesia dan Thailand akan memulai cerita baru tanpa jaminan apa pun dari sejarah.
Namun, bagi Indonesia, final ketujuh ini jelas memiliki beban yang berbeda. Enam kegagalan sebelumnya telah menjadi bagian dari sejarah.
Malam ini, Timnas Indonesia yang didukung puluhan ribu suporter punya kesempatan untuk mengubahnya menjadi titik balik.
Peluit panjang nantinya akan menentukan: apakah Indonesia kembali pulang sebagai runner-up, atau akhirnya mengangkat trofi ASEAN yang selama ini terus menjauh.
Satu pertandingan. Satu trofi. Dan satu kesempatan untuk mengakhiri penantian.
Indonesia vs Thailand. Final FIFA ASEAN Cup 2026. Malam ini, sejarah kembali dipertaruhkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni