RADARTUBAN – Ada masa ketika menonton Liga Italia di RCTI bukan sekadar menunggu gol Alessandro Del Piero, aksi Francesco Totti, atau duel panas AC Milan melawan Inter Milan.
Ada suara yang membuat pertandingan terasa lebih hidup, bahkan ketika bola belum bergulir.
Salah satunya adalah Bung Rayana Djakasurya, sosok yang lekat dengan romantisme Serie A era 1990-an hingga awal 2000-an.
Yang membuatnya membekas bukan semata-mata pilihan katanya, melainkan cara sepak bola diceritakan.
Di tengah pertandingan yang penuh tensi, sepak bola bisa menjadi kisah tentang karakter pemain, identitas kota, sejarah klub, hingga drama manusia di balik lapangan.
Baca Juga: Juventus Punya Harta Karun Baru, Kenan Yildiz Rebut Takhta Pemain Termahal Serie A
Bukan Cuma Gol, Ada Cerita di Balik Sepak Bola
Bagi generasi yang tumbuh bersama siaran Serie A di RCTI, pengalaman menonton sepak bola kala itu terasa berbeda.
Nama-nama seperti Juventus, Parma, AS Roma, dan AC Milan bukan hanya klub yang berebut kemenangan, tetapi juga bagian dari cerita yang terus dibicarakan setelah pertandingan berakhir.
Media Pantau dalam laporan tentang komentator sepak bola pada 2002 mencatat Rayana sebagai koresponden RCTI di Italia.
Peran itu memperlihatkan bahwa kehadirannya tidak terbatas pada narasi pertandingan, tetapi juga membawa suasana dan informasi langsung dari negeri asal Serie A.
Ketika Diksi Membuat Sepak Bola Terasa Puitis
Salah satu daya tarik gaya bertutur yang dikenang penggemar sepak bola adalah kemampuannya memberi makna lebih pada aksi pemain.
Totti, misalnya, bukan hanya kapten AS Roma yang piawai mengolah bola. Ia juga simbol kesetiaan, kecerdasan, dan identitas sebuah kota.
Kalimat, "Francesco Totti tidak sedang bermain bola, ia sedang bermain dengan perasaan lawan...", kerap dikaitkan dengan gaya puitis Bung Rayana.
Namun, sumber primer yang memastikan kalimat itu sebagai kutipan autentiknya belum terverifikasi.
Karena itu, kalimat tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai ilustrasi gaya bahasa yang diasosiasikan penggemar, bukan kutipan langsung yang sudah dipastikan.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A Mau Dimajukan! Klub Italia Kini Tinggal Tunggu FIFA
Nostalgia yang Tak Bisa Digantikan Statistik
Serie A era 1990-an memiliki persaingan ketat yang melibatkan Juventus, AC Milan, Inter Milan, Lazio, AS Roma, Parma, dan Fiorentina.
Persaingan itulah yang ikut membangun kenangan kolektif pencinta sepak bola Indonesia.
Kini, tayangan sepak bola semakin cepat, analisis semakin padat, dan statistik tersedia dalam hitungan detik.
Namun, bagi penggemar lama, ada satu hal yang tetap dirindukan: cara pertandingan diceritakan hingga terasa lebih besar daripada skor akhir.
Sebab, sebuah laga mungkin selesai dalam 90 menit. Tetapi suara dan kata-kata yang menemani malam itu bisa bertahan puluhan tahun. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni