RADARTUBAN - Istilah GOAT dalam sepakbola semakin sering muncul di media dan diskusi penggemar, terutama ketika membandingkan legenda seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
GOAT adalah singkatan dari Greatest Of All Time, yang berarti “terhebat sepanjang masa”.
Artikel ini mengulas sejarah istilah GOAT dalam lingkungan olahraga, khususnya sepakbola, bagaimana asal-usulnya, siapa yang pertama menggunakannya, dan bagaimana istilah ini berkembang menjadi bagian dari budaya sepak bola modern.
Asal Usul Istilah GOAT
Istilah “GOAT” bukanlah istilah yang khusus muncul dari dunia sepakbola, melainkan berasal dari budaya olahraga Amerika Serikat.
Menurut laporan di Si.com, GOAT tadinya identik dengan arti negatif—“a goat” merujuk atlet yang melakukan kesalahan besar pada momen krusial — tetapi kemudian berubah maknanya menjadi sesuatu yang positif sebagai akronim Greatest Of All Time.
Muhammad Ali sering dikreditkan sebagai figur yang sangat mempopulerkan istilah ini.
Istri Ali, Lonnie Ali, pada tahun 1992 mendirikan “G.O.A.T., Inc.” untuk mengelola hak atas kekayaan intelektual suaminya, sehingga istilah GOAT semakin mendapatkan legitimasi sebagai gelar.
Perkembangan Istilah GOAT ke dalam Sepakbola
Si.com dan beberapa laporan lain menyebut bahwa sementara awalnya GOAT lebih dipakai di olahraga seperti tinju, basket, dan NFL, dalam abad ke-21 istilah tersebut mulai dipakai juga dalam sepakbola.
Contoh penggunaan: media mengaitkan istilah GOAT dengan Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo, yang dianggap kandidat GOAT sepakbola.
Dalam artikel “What does GOAT mean and why is it used to refer to Tom …” disebutkan bahwa meskipun Tom Brady yang paling sering dikaitkan dengan istilah GOAT dalam NFL, penggunaan istilah ini juga merambah ke olahraga lain, termasuk sepakbola melalui liputan internasional dan media massa.
Siapa Pertama Menggunakan Istilah GOAT?
• Muhammad Ali dan penggunaan “Greatest of All Time” sebagai bagian dari persona publiknya dan branding melalui G.O.A.T., Inc. dianggap sebagai titik awal resmi yang mencatat GOAT sebagai istilah positif dalam olahraga.
• Dari sisi dokumentasi tertulis, Merriam-Webster mengungkap bahwa salah satu kutipan tertua penggunaan GOAT dalam arti “terhebat sepanjang masa” ditemukan dalam forum olahraga pada tahun 1996, ketika seseorang menulis “Penny is the GOAT (Greatest of All Time)”.
Bagaimana Istilah GOAT Menjadi Bagian dari Budaya Sepakbola
Istilah GOAT dalam sepakbola kini tidak hanya digunakan untuk menyebut pemain terbaik berdasarkan statistik dan prestasi, tetapi juga sebagai bahan perbandingan antar generasi (era).
Faktor-faktor seperti trofi, kemampuan teknis, pengaruh di lapangan, konsistensi, dan reputasi internasional semua menjadi bagian dari diskusi siapa yang pantas disebut GOAT.
Media luar negeri juga telah mulai memasukkan istilah GOAT dalam editorial, opini, dan liputan pertandingan atau penghargaan — semakin melekat dalam budaya olahraga dan sepakbola khususnya.
Kecenderungan ini diperkuat oleh media sosial, di mana penggemar amat cepat menggunakan istilah GOAT untuk menyebut pemain favorit mereka.
Implikasi dan Kritik terhadap Penggunaan Istilah GOAT
Penggunaan istilah GOAT bukan tanpa kontroversi. Ada beberapa kritik:
1. Kesulitan banding antar era — kondisi olahraga berubah (teknologi, pelatihan, nutrisi), sehingga membandingkan pemain dari era berbeda sering dianggap tidak adil.
2. Subjektivitas — banyak faktor non-statistik (kepribadian, pengaruh media, kehadiran di turnamen besar) mempengaruhi siapa yang dianggap GOAT.
3. Debat publik yang sengit — penggunaan istilah ini sering memicu perdebatan antar penggemar; kadang menjadi sumber polarisasi karena tiap orang punya kriteria berbeda.
Istilah GOAT dalam sepakbola memiliki akar yang lebih luas dari sekadar olahraga sepakbola.
Meskipun muncul di Amerika Serikat dalam konteks tinju dan olahraga lainnya, istilah ini telah berkembang menjadi gelar kehormatan di sepakbola, terutama sejak abad ke-21.
GOAT bukan hanya predikat individu, tetapi juga simbol diskusi budaya tentang keunggulan, warisan, dan bagaimana generasi membandingkan pemain terbaiknya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni