Kasmulik, Kepala SDN Latsari Tuban: Kunci Karakter Santun Anak di Era Digital Ada pada Keteladanan Lingkungan dan Keluarga

Shafa Dina Hayuning Mentari • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 13:16 WIB
Kepala SDN Latsari Tuban, Kasmulik bagikan strategi bentengi moralitas siswa dari dampak negatif gawai lewat pembiasaan ibadah dan contoh dari orang dewasa. (Radar Tuban)
Kepala SDN Latsari Tuban, Kasmulik bagikan strategi bentengi moralitas siswa dari dampak negatif gawai lewat pembiasaan ibadah dan contoh dari orang dewasa. (Radar Tuban)

RADARTUBAN - Gawai dan teknologi digital telah menjadi bagian dari keseharian anak-anak.

Di satu sisi, perkembangan teknologi membuka akses pengetahuan yang semakin luas. Namun, di sisi lain, ketergantungan terhadap gawai dapat menjadi tantangan ketika tidak diimbangi dengan penguatan karakter.

Kondisi itulah yang menjadi perhatian Kasmulik, seorang pendidik yang melihat pembentukan karakter anak sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Baginya, kecanggihan teknologi tidak seharusnya membuat anak kehilangan sikap santun dan nilai-nilai moral.

Baca Juga: Kepala MAN 1 Tuban Fatah Yasin: Literasi Benteng Utama Hadapi Arus Digitalisasi

Sebagai pendidik, Kasmulik meyakini bahwa pendidikan karakter tidak dapat ditunda. Penanamannya harus dilakukan sejak anak berada pada usia dini, ketika mereka masih memiliki kecenderungan kuat untuk meniru apa yang dilihat dan dialami dari lingkungan sekitarnya.

‘’Anak-anak saat ini tidak bisa lepas dari modernisasi dan teknologi. Sehingga, untuk menjaga karakter mereka tetap santun di tengah arus digitalisai. Kunci utamanya adalah keteladanan dari lingkungan sekitar anak,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Alumni Universitas Adi Buana Surabaya itu melihat keteladanan sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan karakter. Anak usia sekolah dasar, menurut dia, belum sepenuhnya mampu memilah berbagai perilaku yang mereka temui.

Karena itu, apa yang mereka lihat dari orang dewasa di sekitarnya mudah menjadi contoh.

Kasmulik kini menjabat Kepala UPT SDN Latsari Tuban. Dari sekolah itulah dia mencoba menerapkan gagasan tersebut dalam keseharian siswa. Namun, dia menyadari sekolah bukan satu-satunya tempat pembentukan karakter.

Keluarga, kata dia, memiliki peran yang sama pentingnya. Kebiasaan baik yang dibangun di sekolah perlu dilanjutkan di rumah agar pembentukan karakter anak berlangsung secara konsisten.

‘’Orang tua juga harus membiasakan hal-hal yang positif agar dicontoh oleh anak. Karena jika penanaman karakter hanya dilakukan di sekolah, maka karakter teladan pada anak tidak bisa terbentuk maksimal,” ujar pendidik kelahiran 1971 ini.

Bagi Kasmulik, membangun karakter juga membutuhkan proses. Terutama ketika anak memasuki masa transisi dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Perubahan dari dunia bermain menuju rutinitas belajar tidak bisa dilakukan secara mendadak.

Anak perlu dibiasakan secara perlahan. Rutinitas sederhana yang dilakukan berulang-ulang diharapkan menjadi kebiasaan dan pada akhirnya membentuk sikap.

‘’Di Latsari misalnya, kami kenalkan pembiasaan kecil secara rutin dan bertahap. Mulai dari datang pagi ke sekolah, berdoa sebelum belajar, shalat dhuha terjadwal, hingga jamaah salat wajib,” tutur mantan kepala UPT SDN Kutorejo 3 Tuban ini.

Baca Juga: Profil Peraih IPK 3,99 dan Lulusan Terbaik IPB 2026: Nabil Bintang Prayoga, Anak Pemilik Depot Jamu di Batang

Pembiasaan itu kemudian diperkuat melalui kegiatan yang menanamkan nilai religiusitas. Siswa diajak membaca Asmaul Husna dan belajar ber-infaq. Kasmulik memandang kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas sekolah, melainkan bagian dari proses mengenalkan nilai kepedulian, kedisiplinan, dan keagamaan kepada anak.

Menurut dia, karakter sosial dan religius yang ditanamkan sejak dini dapat menjadi bekal ketika anak berhadapan dengan lingkungan yang semakin kompleks, termasuk dunia digital.

Kasmulik tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus dijauhi anak. Tantangannya adalah memastikan perkembangan teknologi berjalan beriringan dengan pembentukan kepribadian.

Karena itu, pendidikan karakter, bagi dia, bukan hanya soal aturan di sekolah. Lebih jauh, karakter tumbuh dari kebiasaan yang dilihat, dilakukan, dan dirasakan anak setiap hari.

‘’Karena anak itu kalau sudah didasari dengan penanaman nilai religiusitas yang baik, InsyaAllah karakternya juga mengarah ke yang bagus,” pungkasnya. (saf/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
SDN LAtsari Tuban pendidik