RADARTUBAN - Literasi, bagi Mochammad Saifullah, bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Literasi juga merupakan fondasi yang menentukan bagaimana seorang anak menyerap pengetahuan, memahami persoalan, dan kelak membangun cara berpikirnya.
Pandangan itu terus dipegang Saiful, sapaan akrab kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ashomadiyah Tuban. Di tengah perubahan pola belajar dan semakin dekatnya anak-anak dengan gawai, dia justru melihat satu hal yang perlahan tergerus: kebiasaan membaca.
‘’Secara umum, saya melihat tingkat literasi saat ini sudah sangat rendah. Kehadiran internet dan gadget membuat anak-anak kemudian menjadi ketergantungan," ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban, kemarin (11/8).
Pengamatan itu dia temukan dalam keseharian. Sepulang sekolah, anak-anak lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai daripada membuka buku. Kondisi tersebut, menurut Saiful, turut memengaruhi kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Tantangan literasi, baginya, tidak berdiri sendiri. Perubahan kurikulum yang berlangsung dinamis juga ikut mengubah cara siswa memperoleh pengetahuan.
Pendidik berusia 45 tahun itu menjelaskan, kurikulum modern banyak mengadopsi pendekatan konstruktivisme. Siswa didorong menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri melalui pengalaman belajar serta lingkungan di sekitarnya.
Pendekatan tersebut memiliki sisi positif. Saiful melihat ada konsekuensi yang perlu diperhatikan ketika aktivitas membaca buku tidak lagi menjadi bagian penting dalam proses belajar.
‘’Imbas negatifnya adalah porsi anak untuk membaca hal-hal yang bersifat teoritis menjadi sangat kurang. Kondisi berbeda jauh dengan era dulu saat anak-anak mengonstruksi pemikiran mereka lewat buku bacaan yang kemudian dihafalkan,” tuturnya.
Karena itu, Saiful memilih tidak mempertentangkan metode belajar lama dan baru. Di MI Ashomadiyah Tuban, dia mencoba memadukan kurikulum nasional dengan program khusus untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Tujuannya sederhana membangun kebiasaan terlebih dahulu.
"Harapannya, anak-anak bisa terbiasa dulu untuk membaca. Setelah terbiasa, mereka akan suka, hingga akhirnya muncul kemandirian untuk membaca," ungkapnya.
Bagi alumni UIN Jogja ini, kebiasaan membaca tidak hanya dibutuhkan untuk memahami buku pelajaran. Kemampuan itu semakin penting ketika siswa dihadapkan pada model tes kompetensi akademik.
Menurut dia, soal-soal dalam TKA banyak menggunakan pola berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skills (HOTS). Narasi yang panjang dan tuntutan memahami logika bacaan membuat kemampuan literasi menjadi salah satu modal penting bagi siswa.
Dari sana, dia melihat persoalan literasi dalam cakupan yang lebih luas. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan pintu masuk menuju kemampuan berpikir.
‘’Membaca itu membuka jendela dunia. Rasa-rasanya kalau membaca itu tidak digalakkan, kita akan kehilangan generasi yang cerdas. Maka, menurut saya, membaca itu titik pangkal dari Pendidikan itu sendiri,” tegas lulusan magister di UPI Bandung ini.
Pandangan Saiful tentang membaca juga tidak berhenti pada kemampuan memahami teks.
Dia mengaitkannya dengan pemikiran tokoh epistemologi Islam, Muhammad Abid al-Jabiri, mengenai tiga model pendekatan berpikir: bayani, yakni membaca dan memahami teks; burhani, yang menekankan analisis logika, serta irfani, yang berkaitan dengan pengalaman spiritual.
Bagi Saiful, ketiganya membutuhkan satu pijakan awal kemampuan memahami bacaan.
"Anak tidak akan bisa melakukan analisis ketika literasi dasarnya belum lancar. Sehingga, membaca menjadi satu pokok penting untuk Pendidikan,” pungkasnya.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban