Profil Achmad Chairul Mizan, Waka Kesiswaan SMK TJP Tuban: Dorong Literasi Digital dan Etika Penggunaan AI

Andreyan (An) • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Achmad Chairul Mizan, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Taruna Jaya Prawira (TJP) Tuban. (Radar Tuban)
Achmad Chairul Mizan, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK Taruna Jaya Prawira (TJP) Tuban. (Radar Tuban)

RADARTUBAN – Di balik sosoknya yang bersahaja, Achmad Chairul Mizan menyimpan prinsip tegas dan selektif dalam mendampingi siswa-siswi SMK Taruna Jaya Prawira (TJP) Tuban, khususnya terkait pemanfaatan teknologi di lingkungan sekolah.

Laju perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mulai membayangi proses belajar anak didik mendorong pria yang akrab disapa Mizan ini mengambil peran aktif sebagai pengontrol penggunaan teknologi dalam media pembelajaran.

Guru yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala (Waka) Bidang Kesiswaan SMK TJP Tuban tersebut memandang kehadiran AI sebagai realitas baru dunia pendidikan.

Baca Juga: Siswa SMK TJP Tuban Diterima Kerja di Industri Ternama sebelum Lulus

Namun, dia menekankan pentingnya kebijaksanaan para siswa dalam merespons teknologi tersebut.

"Yang utama adalah membangun etika dan literasi digital. Siswa harus memahami bahwa AI boleh digunakan sebagai alat bantu menambah pengetahuan, tetapi tidak untuk menggantikan proses belajar itu sendiri," tegas Mizan.

Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang diampunya, pendidik asal Desa Beji, Kecamatan Jenu, ini konsisten menghidupkan budaya membaca, bertanya, dan berdiskusi.

Metode ini dia terapkan agar daya kritis para siswa tetap terasah di tengah kemudahan akses informasi.

"Saya selalu melihat teknologi dari dua sisi. Jika dimanfaatkan secara tepat, teknologi bisa mendongkrak kemampuan siswa. Namun jika digunakan berlebihan tanpa kontrol, teknologi justru mengikis kemandirian mereka," bebernya.

Alumnus IKIP PGRI Tuban ini memiliki pendekatan khusus untuk membendung dampak negatif AI pada ruang kelas. Guna memastikan tugas sekolah benar-benar hasil pemikiran mandiri, Mizan menggeser fokus penilaian dari sekadar hasil akhir menjadi penilaian berbasis proses.

Setiap kali menyelesaikan tugas atau praktik kompetensi keahlian, para siswa diwajibkan mempresentasikan dan menjelaskan proses pengerjaannya secara utuh dari awal hingga akhir.

"Dengan pendekatan seperti itu, AI tetap berfungsi sebagai instrumen pendukung, tetapi kompetensi dan pemahaman pribadi siswa tetap menjadi tolok ukur utama," pungkas Mizan. (an/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban AI SMK TJP