RADARTUBAN- Guru tidak lagi sekadar menjadi pengajar tunggal di depan kelas. Terlebih, ketika menghadapi karakteristik peserta didik modern yang memiliki keberagaman gaya belajar.
Karena itu, pendidik harus menjelma sebagai fasilitator pendidikan yang inovatif sekaligus sahabat dekat bagi para siswa agar proses transfer ilmu pengetahuan dapat meresap secara utuh dan menyenangkan.
Hal tersebut diterapkan langsung oleh Anggun Winata. Dia mengatakan, penting bagi guru untuk memfasilitasi transfer ilmu tersebut agar tidak ada satu pun siswa yang tertinggal dalam memahami konsep dasar suatu materi pelajaran.
''Misalkan hanya memfasilitasi anak-anak yang belajarnya secara kinestetik melalui praktikum atau praktik langsung. Lantas, bagaimana dengan mereka yang memiliki gaya belajar berbeda? Di sinilah perlunya variasi dan inovasi dalam pembelajaran," ujar Anggun kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurut pendidik SMAN 1 Tuban ini, variasi tersebut dapat dihadirkan melalui integrasi media pembelajaran interaktif berbasis teknologi modern. Penggunaan modul yang dilengkapi audio, video edukatif, animasi tiga dimensi (3D), praktikum menyenangkan, maupun pembelajaran yang dikonsep dalam bentuk game yang dinilai sangat efektif untuk memperjelas konsep-konsep materi yang bersifat abstrak.
Salah satu contoh nyata terlihat pada mata pelajaran yang diampunya, kimia. Pelajaran ini menuntut pemahaman tingkat molekuler atau reaksi kimia yang sering kali sulit dibayangkan jika hanya mengandalkan penjelasan verbal.
''Apalagi kalau dalam pelajaran seperti kimia, ada beberapa konsep yang abstrak. Melalui visualisasi video, gambar, dan animasi 3D, konsep tersebut bisa tergambar dengan jelas," imbuhnya.
Guru berusia 38 ini melanjutkan, menjadi pelengkap yang sangat penting selain pemahaman yang diperoleh siswa secara mandiri lewat percobaan ilmiah atau belajar secara mandiri.
Meski penggunaan teknologi dan model pembelajaran berbasis eksperimen mandiri atau diskusi kelompok terus dilakukan, menurutnya pemahaman yang didapat siswa dari pembelajaran secara mandiri maupun diskusi kelompok tidak serta-merta menjamin keutuhan konsep ilmiah.
"Meski anak-anak berhasil menemukan pengetahuan itu secara mandiri, tetap harus ada figur seorang guru yang mengarahkan. Pendidik bertugas mengecek apakah konsep yang ditangkap siswa tersebut sudah valid atau justru keliru," papar lulusan Universitas Negeri Malang itu.
Dia mengingatkan, agar tren pembelajaran modern tidak disalahartikan dengan menghilangkan peran penjelasan atau bimbingan langsung dari guru. Kadang muncul pandangan yang menganggap metode ceramah atau arahan langsung dari pendidik adalah hal yang kurang baik dan sepenuhnya harus digantikan oleh diskusi interaktif.
Padahal, tanpa bimbingan dan konfirmasi dari guru di akhir atau awal sesi pembelajaran, siswa berpotensi mengalami miskonsepsi yang fatal bagi fondasi keilmuan mereka.
''Peran guru justru sangat vital di tahap akhir sebagai pengunci dan penjelas. Jadi, setelah siswa bereksplorasi melalui game, diskusi, atau praktikum, pemantapan konsepnya tetap dari guru. Ini meluruskan agar pemahaman siswa benar-benar akurat," tambah juara 1 AGP Provinsi Jawa Timur 2025.
Menciptakan suasana kelas yang asyik, inovatif, sekaligus menjaga ketepatan materi memang menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik saat ini. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga pandai membaca psikologi siswa.
''Membangun kedekatan emosional bagaikan seorang sahabat bagi siswa serta adaptif terhadap perkembangan teknologi pembelajaran masa kini penting dilakukan, agar transfer ilmu pada siswa bisa maksimal. dan siswa bisa memahami materi sepenuhnya," ujarnya.(saf/ds)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Radar Tuban