RADARTUBAN— Berawal dari keprihatinan terhadap kondisi kawasan bekas penebangan liar (illegal logging), seorang perempuan yang akrab disapa Umi mendedikasikan hidupnya selama 28 tahun untuk menghijaukan kembali kawasan hutan yang sempat gersang.
Dimulai sejak krisis moneter tahun 1998, Umi memilih tinggal di area hutan demi merawat ekosistem dan mengembalikan fungsi alam yang rusak.
Bermodalkan tekad kuat serta pendanaan secara mandiri, Umi memfokuskan aksinya pada penanaman vegetasi bambu. Dari lahan yang diperkirakan mencapai 30 hektar, kini telah tumbuh lebih dari 50 jenis bambu dari sekitar 160 spesies yang ada di Indonesia.
Koleksi tanaman bambu tersebut mencakup jenis bambu betung, ampel kuning, bambu tali, bambu gombong, hingga spesies asal luar negeri seperti bambu Meksiko.
Keputusan Umi untuk mengambil jalur pelestarian menggunakan tanaman bambu ini tentu didasari oleh alasan teknis yang kuat.
Bambu dinilai memiliki tingkat efektivitas penyerapan serta penyimpan air tanah hingga 90 persen, jauh melebihi pohon kayu yang rata-rata hanya menyerap 30 hingga 35 persen air.
Selain itu, ketahanan rumpun bambu yang tidak langsung mati saat ditebang menjadi keunggulan tersendiri dibanding pohon keras.
"Sifat pohon itu kalau ditebang, untuk kembali sebesar itu butuh puluhan tahun. Kalau bambu ditebang satu, yang lain masih tetap hidup. Itu makanya pilihan Umi ke bambu," ujar Umi.
Usaha konsisten yang dilakukan selama hampir tiga dekade tersebut membuahkan hasil signifikan terhadap lingkungan sekitar. Wilayah yang dulunya gersang kini berubah menjadi ekosistem yang sejuk, mampu menurunkan suhu udara tempatan, serta kembali memunculkan puluhan titik mata air baru.
Pasokan air bersih tersebut mengalir dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh warga masyarakat di area bawah hutan untuk kebutuhan sehari-hari.
Meski mengelola ribuan rumpun bambu yang memiliki bernilai jual tinggi sebagai bahan bangunan maupun kerajinan, Umi menegaskan tidak pernah menjual satu batang bambu pun dari area konservasi tersebut.
Seluruh tanaman dirawat murni untuk menjaga ekosistem tanah, menguatkan penahan angin, serta menjadi sumber oksigen.
"Bukan berarti Umi memiliki ya. Sekian ribu atau jutaan pohon bambu ini belum ada satu pun yang Umi jual. Pengin diucapkan terima kasih, mereka balas budi dengan kita tanam dan rawat, mereka juga membalas dengan tumbuh subur," tuturnya.
Baca Juga: Rekayasa Lalu Lintas JLS Tuban Kacau, Warga Pasang Plang Bambu Hadang Pelanggar
Atas dedikasinya dalam menjaga lingkungan tanpa merugikan negara, Umi telah menerima penghargaan resmi sebagai Pelestari Alam dari Gubernur Jawa Barat.
Melalui edukasi yang terus diberikan kepada pengunjung dan relawan lingkungan, ia berharap kesadaran masyarakat untuk tidak merusak hutan serta aktif menanam tanaman dapat terus meningkat demi mencegah krisis air di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni