Mengenal Siapa Gus Lilur, Pengusaha Berlatar Belakang Santri NU yang Aktif Kritik NU

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:22 WIB
Profil Gus Lilur dikenal sebagai pengusaha asal Situbondo, aktivis sosial, dan tokoh muda NU yang aktif menyuarakan berbagai persoalan bangsa. (Istimewa)
Profil Gus Lilur dikenal sebagai pengusaha asal Situbondo, aktivis sosial, dan tokoh muda NU yang aktif menyuarakan berbagai persoalan bangsa. (Istimewa)

RADARTUBAN – Nama Gus Lilur belakangan semakin sering muncul di ruang publik. Terutama tentang kritik terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Sosok yang dikenal sebagai pengusaha asal Situbondo, Jawa Timur, tersebut tidak hanya aktif di dunia bisnis.

Dia juga dikenal sebagai tokoh berlatar pesantren, pegiat sosial, penulis, sekaligus kerap menyampaikan pandangan mengenai berbagai persoalan nasional.

Gus Lilur diketahui memiliki nama lengkap HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy. 

Baca Juga: Profil Muhasan, Sosok di Balik Upaya Menghidupkan Pantai Kelapa

Dia merupakan alumni Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. Latar belakang pesantren tersebut menjadi salah satu identitas yang tetap dibawanya dalam berbagai aktivitas, termasuk ketika menjalankan bisnis dan kegiatan sosial.

Di dunia usaha, kiprah Gus Lilur terbilang lintas sektor. Namanya dikaitkan dengan sejumlah kegiatan bisnis mulai dari pertambangan, pertanian, pangan, tembakau dan rokok hingga perikanan.

Salah satu sektor yang belakangan mendapat perhatian adalah budidaya laut.

Melalui kelompok usaha yang disebut Balad Group, Gus Lilur mendorong pengembangan budidaya dan bisnis perikanan dengan orientasi pasar yang lebih luas, termasuk membuka peluang kerja sama dengan mitra dari luar negeri.

Tak hanya sektor perikanan. Gus Lilur juga mulai memberikan perhatian terhadap persoalan pangan, khususnya beras. 

Dia menilai sektor pangan memiliki posisi strategis bagi kedaulatan Indonesia dan tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas perdagangan.

Aktivitas bisnis tersebut berjalan beriringan dengan kegiatan sosial yang menjadi bagian dari identitas Gus Lilur.

Dia dikenal dengan filosofi Dabatuka, kependekan dari "Demi Allah Bumi Aku Taklukan untuk Kemanusiaan".

Filosofi tersebut antara lain diwujudkan melalui kegiatan sosial dan sedekah. Gus Lilur diketahui aktif melalui Netra Bakti Indonesia (NBI), termasuk kegiatan berbagi yang dilakukan secara rutin.

Dalam sejumlah kesempatan, Gus Lilur juga menyuarakan persoalan yang berkaitan dengan masyarakat kecil. Mulai dari petani tembakau, tata niaga hasil pertanian, industri rokok, hingga penegakan hukum.

Pada sektor tembakau, misalnya, ia menyoroti posisi petani yang dinilai masih perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Menurutnya, besarnya nilai ekonomi industri tembakau semestinya juga memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Baca Juga: Profil dan Perjalanan Karier Fadil Imran: Dari Reskrim, Pensiun Jenderal Bintang Tiga, hingga Komisaris Mind ID

Isu rokok ilegal dan kebijakan cukai juga menjadi perhatian. Gus Lilur mendorong adanya pendekatan yang tidak hanya mengedepankan penindakan, tetapi juga memberikan jalan bagi pelaku usaha untuk masuk ke industri yang legal.

Kiprah Gus Lilur kemudian semakin meluas ke isu kebangsaan dan keumatan. Ia beberapa kali menyampaikan pandangan mengenai Nahdlatul Ulama (NU), penegakan hukum, pemberantasan korupsi, hingga tata kelola sumber daya alam.

Pada momentum Muktamar NU 2026, misalnya, Gus Lilur menyampaikan pandangan bahwa forum tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali kepercayaan publik sekaligus mengembalikan NU sebagai kekuatan moral di tengah masyarakat.

Dia juga dikenal sebagai penulis. Salah satu buku yang dikaitkan dengan namanya adalah Prabowo untuk Indonesia Raya.

Aktivitas tersebut membuat Gus Lilur tidak hanya dikenal melalui dunia usaha, tetapi juga melalui gagasan-gagasannya mengenai arah pembangunan Indonesia.

Menariknya, meski dikenal sebagai pengusaha dengan aktivitas bisnis lintas sektor, Gus Lilur tetap membawa identitas sebagai seorang santri. Gaya komunikasi dan penampilannya yang sederhana menjadi salah satu ciri yang melekat pada sosoknya.

Aktivitasnya yang bersinggungan dengan bisnis, sosial, keumatan dan isu kebangsaan membuat nama Gus Lilur semakin menarik perhatian publik.

Namun demikian, sejumlah informasi mengenai profil pribadi Gus Lilur, seperti tanggal lahir, detail silsilah keluarga, struktur kepemilikan perusahaan dan nilai kekayaan, belum banyak tersedia secara independen di ruang publik.

Karena itu, informasi mengenai aspek-aspek tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati dan dikonfirmasi melalui sumber primer sebelum digunakan sebagai fakta dalam pemberitaan.

Bagi publik, Gus Lilur kini bukan sekadar dikenal sebagai pengusaha asal Situbondo. Ia tampil sebagai figur dengan latar belakang pesantren yang mencoba memadukan dunia usaha, aktivitas sosial dan gagasan mengenai persoalan kebangsaan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
kedaulatan indonesia situbondo Jawa Timur pesantren