Modal Lahan Rindang dan Limbah, Pengusaha Kediri Sukses Bikin Bisnis Cacing Beromzet Ratusan Juta

Jessyca Diva Edhelwise • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 15:02 WIB
Proses perawatan media budidaya cacing yang memanfaatkan lahan teduh di bawah pepohonan. (youtube.com/ Pecah Telur)
Proses perawatan media budidaya cacing yang memanfaatkan lahan teduh di bawah pepohonan. (youtube.com/ Pecah Telur)

RADARTUBAN - Usaha budidaya cacing kerap kali dipandang sebelah mata dan dianggap menjijikkan oleh sebagian besar masyarakat. Namun, pandangan skeptis tersebut berhasil ditepis oleh Muhammad Rofiq, seorang pengusaha asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Di tangannya, bisnis penguraian limbah organik menggunakan cacing jenis African Nightcrawler (ANC) justru menjelma menjadi ladang bisnis terintegrasi dengan omzet kotor mencapai Rp100 juta per bulan.

Sulap Limbah dan Lahan Kritis Jadi Cuan

Perjalanan bisnis Rofiq bermula dari kejeliannya melihat potensi lahan di bawah perkebunan rimbun seluas 10 hektar yang tidak terpakai. Area rindang tersebut tidak memungkinkan untuk ditanami komoditas pertanian biasa karena minim terpapar sinar matahari secara langsung.

Melihat kondisi lingkungan yang lembap dan teduh, Rofiq memanfaatkannya untuk membudidayakan cacing ANC. Jenis cacing ini dipilih karena dikenal memiliki daya tahan fisik yang baik serta siklus reproduksi yang sangat cepat.

Baca Juga: Kisah Rosie: Mantan Desainer London yang Pilih Hidup Mandiri di Hutan Swedia

Selain mengoptimalkan lahan menganggur, sistem budidaya cacing ini dirancang khusus untuk menyerap berbagai limbah dari unit bisnis miliknya yang lain. Pendekatan ini sekaligus memecahkan masalah penanganan limbah organik di sekitarnya.

Kotoran dari peternakan sapi, limbah kulit buah dari pabrik nanas, hingga limbah cair dari pabrik gula dimanfaatkan sepenuhnya sebagai media tanam dan pakan utama cacing. Integrasi ini membuat biaya operasional pakan cacing menjadi sangat efisien tanpa perlu mengeluarkan modal besar untuk pakan buatan.

Prinsip kerja yang berorientasi pada manfaat lingkungan dan keberlanjutan ekonomi membuat Rofiq tak pernah malu menggeluti bisnis yang identik dengan kotoran ini. Bagi Rofiq, nilai sebuah pekerjaan diukur dari dampak positif yang dihasilkan bagi banyak orang.

"Kalau kita korupsi atau mencuri itu baru kotor dan merugikan orang lain. Kalau budidaya cacing ini cuma kotor secara fisik, tinggal dicuci bersih beres. Yang terpenting dari usaha ini adalah bisa memberikan manfaat dan menciptakan lapangan pekerjaan," tegas Rofiq dalam tayangan video di kanal youtube Pecah Telur.

Tembus Pasar Ekspor dan Pakan Industri

Pada tahap awal, Rofiq sebenarnya hanya berniat memproduksi pupuk kasgot (kotoran cacing) atau vermicompost untuk meningkatkan kesuburan tanah pertaniannya, sekaligus menyediakan pakan mandiri bagi budidaya lele miliknya.

Namun seiring berjalannya waktu, peluang pasar baru terbuka lebar. Permintaan terhadap cacing hidup maupun tepung cacing terus melonjak untuk memenuhi kebutuhan industri obat-obatan, kosmetik, hingga pakan ternak pasar ekspor.

Kini, hasil panen cacing segar yang dibanderol seharga Rp20 ribu per kilogram tersebut secara rutin dipasok ke berbagai daerah untuk memenuhi kebutuhan industri yang kian berkembang.

Lulusan SMP Serap 3 Ribu Tenaga Kerja

Keberhasilan Rofiq membuktikan bahwa latar belakang pendidikan formal bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan finansial. Lulusan SMP ini kini bahkan berhasil mempekerjakan sekitar 3 ribu karyawan yang tersebar di seluruh jaringan grup usahanya.

Bagi Rofiq, kunci utama dalam membangun bisnis adalah keberanian untuk mengambil langkah awal tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan risiko atau kepasifan perencanaan yang terlalu kaku.

"Tujuan itu sebenarnya tidak selalu harus kaku. Yang paling penting itu berangkat dan mau melangkah dulu. Kalau di tengah jalan ada kesempatan yang lebih bagus dan menguntungkan, jalani saja," pungkasnya memberikan motivasi.

Melalui ekosistem bisnis terintegrasi berbasis pengelolaan limbah ini, Rofiq tak sekadar menekan biaya produksi dan menjaga kelestarian ekosistem.

Dia turut membuktikan bahwa bisnis pengolahan limbah mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkesinambungan bagi masyarakat luas. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
budidaya cacing african nightcrawler bisnis cacing cacing anc