RADARTUBAN - Kiprah Ustad M. Arifuddin di dunia Bahtsul Masail tidak lahir dalam semalam. Dari ruang musyawarah antarpesantren hingga forum keilmuan Nahdlatul Ulama di tingkat Jawa Timur dan nasional, membentuknya sebagai salah satu perumus kajian hukum keagamaan.
Ustad Arifuddin kini tinggal di Desa Beji, Kecamatan Jenu. Di tengah kesibukannya sebagai pengasuh pesantren dan pengurus Nahdlatul Ulama, dia tetap menjaga satu tradisi yang telah dikenalnya sejak menjadi santri: mencari jawaban persoalan keagamaan melalui musyawarah dan kajian keilmuan.
Perkenalannya dengan tradisi tersebut bermula pada 1991. Ketika itu, Arifuddin kecil masih menjadi santri Ponpes Al Falah Ploso, Kediri. Selama 13 tahun, hingga 2004, dia menempa diri di lingkungan pesantren.
Baca Juga: Muktamar ke-35 NU Digelar, Mas Lindra: Semoga Menghasilkan Jalan Kebaikan dan Keberkahan
Di situlah, dia mendapat bekal keilmuan yang kemudian mengantarkannya ke dunia Bahtsul Masail, forum yang menjadi bagian penting dari tradisi keilmuan ahlussunnah wal jamaah di lingkungan NU.
‘’Bahtsul Masail merupakan tradisi keilmuan yang melekat dan menjadi kebanggaan utama Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal berdirinya,’’ tuturnya.
Baginya, Bahtsul Masail bukan sekadar forum untuk mencari jawaban atas persoalan hukum agama. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab yang ingin dia teruskan.
Ustad Arifuddin merupakan generasi penerus dari kakek-buyutnya, KH R. Asnawi Kudus, salah satu pendiri dan penggerak NU.
Langkahnya di dunia Bahtsul Masail mulai terlihat ketika dia bergabung dalam forum tingkat regional pesantren pada 2003. Selama sembilan tahun, hingga 2012, dia dipercaya menjadi Dewan Perumus Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) Jawa-Madura.
FMPP mempertemukan santri dan perumus muda dari ratusan pesantren. Forum itu menjadi ruang baginya untuk mengasah kemampuan membedah persoalan, mulai dari persoalan fikih klasik hingga masalah baru yang muncul seiring perubahan masyarakat.
‘’Kita mulai membedah masalah fiqih klasik sampai persoalan-persoalan kontemporer yang baru muncul di masyarakat,’’ ujar istri Eniq Fikriyah itu.
Pengalaman selama hampir satu dekade di FMPP menjadi bekal ketika dia masuk ke forum yang lebih luas. Sejak 2018, Ustad Arifuddin dipercaya menjadi anggota Dewan Perumus Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur. Lembaga tersebut menjadi salah satu ruang bagi NU Jawa Timur untuk mengkaji dan merumuskan jawaban atas berbagai persoalan hukum keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Amanahnya bertambah pada 2024. Ustad Arifuddin dipercaya menjadi Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur periode 2024-2029. Peran itu membuat tanggung jawabnya tidak lagi sebatas merumuskan jawaban. Dia juga ikut mengarahkan kajian serta pembahasan atas persoalan yang dihadapi umat.
‘’Ini istilahnya next level,’’ kata pria kelahiran Pati 7 Desember 56 tahun silam itu.
Di tingkat cabang, Ustad Arifuddin juga dipercaya sebagai Katib Syuriah PCNU Tuban periode 2023-2028. Posisi tersebut berkaitan erat dengan kerja-kerja keilmuan dan administrasi organisasi.
Baca Juga: Resmi! Muktamar ke-35 NU Digelar di Tambakberas Jombang, Kembali ke Rahim Sejarah Nahdlatul Ulama
Setiap keputusan dan fatwa di tingkat PCNU harus didokumentasikan, dikaji, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Namun, pengabdian Ustad Arifuddin pada tradisi Bahtsul Masail tidak berhenti di struktur organisasi. Sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Manbail Futuh, Jenu, dia juga berusaha menanamkan tradisi tersebut kepada para santri.
Pesantren menjadi ruang untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya mampu bermusyawarah, namun juga memahami cara merujuk kitab dan menyusun jawaban atas persoalan yang terus berkembang.
Perjalanan Ustad Arifuddin di dunia Bahtsul Masail pun membentuk satu garis yang panjang. Dari Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, dia masuk ke FMPP Jawa-Madura. Dari forum pesantren itu, langkahnya berlanjut ke LBM PWNU Jawa Timur. Kini, dia ikut berada di jajaran pimpinan lembaga tersebut.
Lebih dari 20 tahun perjalanan itu membuat Bahtsul Masail bukan sekadar aktivitas keilmuan baginya. Tradisi itu menjadi jalan pengabdian yang terus dijalani.
Forum-forum Bahtsul Masail NU di berbagai tingkatan pun tetap dia ikuti, mulai dari tingkat cabang, wilayah, hingga nasional.
Dia tercatat mengikuti Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Banjar, Jawa Barat, serta Munas di Ploso, Kediri beberapa bulan lalu. Ustad Arifuddin juga terlibat dalam forum Bahtsul Masail pada Muktamar NU di Lampung pada 2022.
Dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pekan lalu, Ustad Arifuddin kembali mendapat kepercayaan. Kali ini, dia terlibat dalam Komisi Bahtsul Masail Maudhuiyah yang membahas persoalan secara tematik.
‘’Di setiap forum bahtsul masail, kami harus terus mencari jawaban yang tafaquh, tawassuth, dan tawazun dalam menghadapi persoalan agama dan perubahan zaman,’’ kata bapak satu putri itu.(ds)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni