Mengenal Sosok Shorihatul Inayah, Satu-Satunya Doktor Pendidikan Kimia Tuban

radar tuban digital • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:31 WIB
Shorihatul Inayah membuktikan belajar tak mengenal usia. Setelah 23 tahun mengajar, dia menuntaskan doktor Pendidikan Kimia di UM. (Radar Tuban)
Shorihatul Inayah membuktikan belajar tak mengenal usia. Setelah 23 tahun mengajar, dia menuntaskan doktor Pendidikan Kimia di UM. (Radar Tuban)

RADARTUBAN - Belajar bagi Shorihatul Inayah rupanya bukan perkara umur. Bukan pula soal kapan harus berhenti.

Setelah bertahun-tahun berdiri di depan kelas, dia justru kembali duduk sebagai mahasiswa. Mengejar jenjang pendidikan yang lebih tinggi hingga meraih gelar doktor.

Kini, Inayah, panggilan akrabnya memimpin Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Tuban.

‘’Meski sekarang ini saya menjadi kepala MIN, perjalanan panjang pendidikan saya justru tidak dimulai dari ruang kepala madrasah,’’ tuturnya ketika memulai wawancara dengan Jawa Pos Radar Tuban. 

Baca Juga: Profil Muhasan, Sosok di Balik Upaya Menghidupkan Pantai Kelapa

Ya, ketika dilantik sebagai kepala MIN 1 Tuban pada 21 April 2026, perjalanan panjang Inayah menempuh program doktor yang dirintis sejak tiga tahun silam tinggal penyelesaian akhir disertasi.

Dari penuturannya, Inayah menceritakan kalau dirinya tumbuh dari lingkungan pesantren, menghabiskan 23 tahun mengajar kimia, mendampingi siswa dalam berbagai kompetisi, hingga akhirnya menjadi uswah bagi muridnya sendiri.

Inayah merupakan putri almarhum  H. M. Shobirin Muchtar dan almarhumah Hj. Hidayatin.

Dari kedua sederhana yang tinggal tak jauh dari sungai Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, dia mengenal satu warisan yang tidak kasatmata: kecintaan kepada ilmu, ketekunan dalam berjuang, dan keyakinan bahwa ilmu yang bermanfaat tak akan habis meski dibagikan kepada banyak orang.

Bekal itu kemudian diperkuat ketika dia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Pesantren memberinya lebih dari pengetahuan keagamaan.

Di sana, Inayah muda ditempa dengan disiplin, kemandirian, kesederhanaan, ketangguhan, sekaligus penghormatan terhadap ilmu dan guru. Nilai-nilai itu kelak terbawa ketika dia memasuki dunia pendidikan.

Bagi pendidik 48 tahun ini, belajar bukan sekadar kewajiban. ‘’Belajar adalah panggilan hidup,’’ ujarnya. Dia memegang satu prinsip yang terus dibawanya dalam perjalanan akademik dan pengabdiannya, warisan ilmu adalah jariyah.

Ilmu, menurutnya, tidak semestinya berhenti pada orang yang memilikinya. Ilmu harus diajarkan, diamalkan, diwariskan, dan memberi manfaat kepada orang lain. Mungkin karena itu pula dia tak lekas merasa cukup.

Ketika satu jenjang pendidikan selesai, langkahnya berlanjut. Hingga akhirnya, pendidik kelahiran 4 Maret 1978 ini menuntaskan pendidikan doktoral bidang Pendidikan Kimia di Universitas Negeri Malang (UM).

Baca Juga: Sosok Rachel Florencia, Perempuan Multitalenta yang Kini Jadi Istri Dikta Wicaksono

Perjalanan menuju gelar doktor tentu bukan jalan yang lapang. Itu karena dia harus menuntaskan tanggung jawab mengajar dan aktivitas lain yang berjalan bersamaan.

‘’Semua tak ikut berhenti hanya karena saya sedang mengejar gelar doktor,’’ ujar lulusan pascsarjana jurusan kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Malang itu. 

Perjalanan akademik doktoral Inayah memperkuat kepakarannya dalam bidang Transformasi Level Scientific Question, yang berkaitan dengan pengembangan kualitas pertanyaan ilmiah dan kemampuan berpikir dalam pembelajaran. Gelar akademik tersebut menahbiskannya sebagai satu-satunya doktor pendidikan kimia di Tuban.

Bagi Inayah, ilmu tidak cukup disimpan. Selama 23 tahun mengajar kimia di MAN 1 Tuban, dia berhadapan dengan siswa dengan kemampuan dan karakter yang beragam. Dia tidak hanya mengajar materi pelajaran.

‘’Saya juga berusaha menemukan potensi yang tersimpan pada setiap anak,’’ ujar Guru Teladan Nasional dalam ajang Perma Pendis Award 2025 itu.

Selama menemukan potensi, dia mendorong siswa-siswanya untuk berani mengikuti kompetisi. Mereka dilatih. Kemampuannya diasah. Kepercayaan diri mereka juga dibangun.

Satu hal yang membuat cara Inayah mendidik terasa berbeda. Alumni MA Salafiyah Merakurak itu tidak hanya meminta muridnya berani berprestasi. Dia juga memberi contoh dengan terus berkompetisi.

Itu dibuktikannya dengan aktif mengikuti berbagai lomba dan kompetisi. Baginya, guru tidak cukup hanya menyuruh murid belajar dan berjuang. Pendidik juga perlu menunjukkan bahwa belajar, berlatih, gagal, bangkit, lalu mencoba lagi adalah bagian dari perjalanan.

Dengan begitu, prestasi bukan hanya tentang siswa. Guru juga harus bersedia menjadi pembelajar. 

Dari perjalanan panjang mengajar itu, Inayah memiliki kisah yang meninggalkan jejak tersendiri di sanubarinya. Dia memiliki siswa les bernama Setiawan Gema Budi yang penyandang disabilitas. 

Inayah mengenal Gema sejak anak itu duduk di bangku SMP. Di mata Inayah, keterbatasan fisik bukan alasan untuk mempersempit masa depan seorang anak.

Karena itu, yang dia lihat justru potensi dan keberanian Gema.

Pendampingan terhadap bocah tersebut tidak berhenti pada persoalan akademik. Ada upaya menumbuhkan keyakinan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi batas bagi cita-cita.

Pada titik itulah peran dirinya sebagai pendidikan menjadi lebih panjang daripada jam pelajaran.

‘’Saya tidak hanya membantu murid memahami soal. Sebagai guru, saya juga dapat membantu seorang anak menatap masa depannya yang masih jauh,’’ ujar pendidik yang hobi menulis dan membaca itu.

Perjalanan Inayah menempuh pendidikan hingga doktoral menjadi salah satu contoh yang dilihat Gema secara langsung.

Apa yang dilakukan gurunya itu kemudian tumbuh menjadi keberanian pada diri sang murid. Gema melanjutkan pendidikan S-3 Ilmu Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui jalur beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). 

Inayah menunjukkan bahwa pendidik tidak hanya bisa mengambil banyak peran pengajar, namun juga inspirator, motivator, pendamping, sekaligus penunjuk jalan.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
Tuban Doktor MIN 1 Pesisir Barat kimia