RADARTUBAN - Menjadi kepala Kantor Urusan Agama (KUA) membuat Akhmat Iswoyo tidak hanya berhadapan dengan urusan administrasi keagamaan.
Dalam lima tahun terakhir, dia juga kerap menjadi tempat masyarakat menyampaikan persoalan keluarga.
Mulai suami-istri yang berada di ambang perceraian, persoalan hak asuh anak, hingga sengketa harta gono-gini pernah dibawa kepadanya.
Mereka datang untuk bercerita sekaligus mencari jalan keluar. ‘’Sudah ratusan keluarga datang untuk konsultasi,’’ ujar kepala KUA Tuban itu kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Baca Juga: Mengenal Sosok Shorihatul Inayah, Satu-Satunya Doktor Pendidikan Kimia Tuban
Pengalaman itu bermula ketika Iswoyo menjabat sebagai kepala KUA Jenu sekitar lima tahun silam. Sejak saat itu, peran sebagai konselor keluarga terus dijalaninya hingga sekarang. Dia bahkan telah mengantongi sertifikat sebagai konselor keluarga.
Kantornya menjadi tempat masyarakat berkonsultasi. Namun, tidak semua orang cukup sabar menunggu kesempatan bertemu dengannya. Beberapa di antaranya bahkan datang langsung ke rumahnya.
‘’Meski sebenarnya konsultasi biasanya di kantor, tapi yang telanjur datang ke rumah tetap saya terima,’’ bebernya.
Bagi Iswoyo, menjadi konselor keluarga merupakan bagian lain dari tugasnya melayani masyarakat. Di luar urusan administratif sebagai kepala KUA, dia memiliki ruang untuk membantu orang-orang yang sedang menghadapi persoalan dalam keluarganya.
‘’Makanya tidak banyak yang datang berkonsultasi untuk mencari solusi,’’ imbuhnya.
Selain memiliki sertifikat sebagai konselor keluarga, Iswoyo juga merupakan mediator keluarga bersertifikasi. Bekal tersebut sebenarnya memungkinkan dirinya menjadi mediator bagi pihak-pihak yang bersengketa di Pengadilan Agama.
Namun, peran itu belum menjadi pilihannya untuk saat ini. Iswoyo masih memilih fokus menjalani tugas sebagai konselor keluarga. ‘’Jadi sementara ini masih sebagai konselor saja,’’ imbuhnya.
Di tengah kesibukan tersebut, dia tetap menjalankan tugas sebagai kepala KUA sekaligus pengurus Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Jawa Timur. Ketiganya dijalankan secara bersamaan tanpa saling mengganggu.
Menurut Iswoyo, kuncinya adalah pengaturan waktu. Tugas-tugas tersebut tidak selalu berlangsung pada waktu yang sama. Justru, satu kegiatan dapat melengkapi kegiatan lainnya.
‘’Waktunya tidak selalu bersamaan, bahkan saling melengkapi sehingga bisa mengatur dengan baik,’’ pungkasnya. (fud/ds)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Tuban