RADARTUBAN - Tekanan pekerjaan dan padatnya kehidupan perkotaan membuat sebagian orang memilih mengubah cara menjalani hidup.
Salah satunya dengan meninggalkan hiruk-pikuk kota dan menetap di pedesaan untuk menjalani gaya hidup slow living.
Dikutip dari kanal YouTube OASIS, pilihan tersebut dijalani pasangan suami istri Alvius Aries Ahmad dan Kumalika Larasati.
Baca Juga: Petani Kebumen Ubah Bekas Sawah Jadi Kebun Pepaya Calina, Panen 2 Kuintal Setiap Pekan
Keduanya yang sebelumnya bekerja sebagai analis keuangan di Jakarta, memutuskan pindah ke Dusun Kanci, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Keputusan itu membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka.
Di lingkungan baru tersebut, pasangan ini mengelola penginapan bernama Omah Sebumi.
Menggarap lahan pertanian seluas 7.500 meter persegi, sekaligus memasok sayuran segar ke sejumlah jaringan restoran.
Kepindahan tersebut dilatarbelakangi rasa lelah akibat tekanan pekerjaan dan dinamika lalu lintas di kota yang dinilai menguras energi.
Kehidupan di pedesaan kemudian memberi mereka kesempatan menjalani rutinitas dengan ritme yang lebih tenang dan teratur.
"Tinggal di desa memberikan kesempatan bagi masyarakat kota untuk jeda sejenak dan kembali menyadari diri sendiri," ujar Laras.
Bangun Usaha Sambil Menciptakan Ruang Ketenangan
Selain menyediakan tempat bagi warga kota yang membutuhkan ruang untuk beristirahat dan mencari ketenangan atau healing space, Larasati juga mengembangkan aktivitas lain di lingkungan tempat tinggalnya.
Dia membuka studio olahraga yoga yang menjadi bagian dari kesehariannya di pedesaan.
Aktivitas tersebut berjalan beriringan dengan pengelolaan penginapan dan lahan pertanian yang mereka miliki.
Bagi pasangan tersebut, keberhasilan tinggal sekaligus membangun usaha di desa tidak hanya bergantung pada modal.
Kemauan untuk membaur dengan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan baru.
Mereka berupaya menjaga etika dan sopan santun atau unggah-ungguh, serta aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di lingkungan sekitar.
Bukan Sekadar Melarikan Diri dari Kehidupan Kota
Sebelum memutuskan pindah, pasangan ini juga mempersiapkan kondisi keuangan.
Dana cadangan dan sumber penghasilan pasif (passive income) disiapkan agar kehidupan setelah meninggalkan pekerjaan di kota tetap memiliki fondasi yang memadai.
Kisah Alvius dan Larasati menunjukkan bahwa pindah ke desa tidak selalu berarti melarikan diri dari tekanan kehidupan perkotaan.
Bagi mereka, keputusan tersebut menjadi pilihan untuk mengatur kembali kehidupan, termasuk dalam hal keuangan, kesehatan mental, serta hubungan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar.
Kehidupan di pedesaan pun tidak hanya menjadi ruang untuk mencari ketenangan.
Dengan mengembangkan pertanian, penginapan, dan aktivitas lainnya, mereka berupaya menciptakan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari