RADARTUBAN - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat dioptimalkan untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.
"Teknologi AI juga bisa digunakan dalam perencanaan lingkungan, pengambilan keputusan, dan pengelolaan berdasarkan algoritma otomatis, sehingga dapat menjaga kualitas ekosistem," kata Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Budi Setiadi Daryono dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, Kamis (21/9), sebagaimana dikutip dari ANTARA.
Dia mengatakan, melimpahnya keanekaragaman hayati di Indonesia menjadi sumber eksplorasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan umat manusia.
Potensi tersebut, kata dia, perlu diikuti dengan upaya penjagaan dan pelestarian yang berkelanjutan. Juga pendataan yang lengkap, akurat, dan valid.
Profesor Budi menyebutkan teknologi metaverse, open science, big data analytics, bioinformatics, biotechnology, dan teknologi AI memiliki potensi untuk menjawab upaya pengelolaan, pendayagunaan, dan pelestarian sumber daya hayati.
Dalam konservasi margasatwa, kata Profesor Budi, AI berperan dalam berbagai kegiatan.
Kegiatan tersebut meliputi monitoring kesehatan ekosistem, mereduksi tingkat kontak dengan satwa liar, dan mencegah konflik satwa dengan masyarakat lokal melalui monitoring dan otomatisasi pengelolaan informasi.
Di bidang pendidikan, lanjut dia, teknologi metaverse bisa menjadi media pembelajaran dan penelitian di bidang biologi yang akan terus berkembang.
Hal ini tentu menjadi daya tarik tersendiri. Khususnya bagi generasi milenial dalam mempelajari biologi.
"Perpaduan antara metaverse dan pembelajaran hayati akan mengantarkan biologi menjadi bidang ilmu pengetahuan yang penting serta menjadi kunci dalam kajian dan eksplorasi biologi masa depan yaitu Deep Sea dan Exobiology yang didahului dengan pesatnya perkembangan big data analytics dan bioinformatika terkait keanekaragaman hayati pada saat ini,” ujarnya.
Profesor Budi Daryono menyampaikan, berbagai pendekatan menggunakan teknologi diperlukan.
Terlebih, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang paling besar di dunia dan diakui memiliki dua biodiversity hotspots dunia yakni Sundaland dan Wallacea. Yakni, wilayah dengan spesies endemik yang melimpah dengan tingkat kepunahan tinggi.
Dia menilai aktivitas antropogenik atau kegiatan manusia merupakan penyebab utama kerusakan keanekaragaman hayati Indonesia. Faktor perubahan iklim juga mendorong kerusakan ekosistem global.
"Banyaknya kasus yang mengancam keanekaragaman hayati di Indonesia tentunya perlu upaya lebih lanjut untuk mencegah kegiatan antropogenik,” ujarnya.(ds)
Editor : Muhammad Azlan Syah