RADARTUBAN-Berapa harga baterai pada mobil listrik? Kalau Anda tahu pasti terheran-heran karena ternyata harganya bisa mencapai sepertiga atau setengah dari harga mobil. Mahalnya baterai mobil listrik disampaikan Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy.
Dikutip dari Antara, Anton menerangkan, harga satu unit baterai untuk kendaraan hybrid Toyota, harganya berkisar antara Rp30 juta hingga Rp40 juta. Sementara untuk battery electric vehicle (BEV), harganya bisa mencapai sepertiga atau setengah dari harga mobil.
Mengapa harga baterai mobil listrik sangat tinggi? Dia menerangkan, hal tersebut dipicu beberapa faktor. Paling utama biaya bahan baku yang belum stabil dan memerlukan teknologi kompleks dengan biaya tinggi.
Juga karena produksi baterai mobil listrik hingga kini masih belum mencapai skala ekonomi yang sama dengan produksi baterai mobil konvensional. Semakin banyak baterai yang diproduksi, semakin rendah biayanya.
‘’Industri mobil listrik masih dalam tahap pertumbuhan, yang berarti masih sangat memungkinkan untuk mencapai biaya keseluruhan yang ideal di kemudian hari,’’ tuturnya.
Terkait daya tahan baterai mobil listrik? Anton menyebut tergantung dari pemakaian. Dia memerkirakan umur baterai pada mobil listrik bisa bertahan paling cepat sepuluh tahun. ‘’Bila kendaraan digunakan dan dirawat dengan baik, umur baterai bisa bertahan lebih lama,’’ ujarnya.
Anton mengakui tingkat keawetan serta pengelolaan baterai mobil listrik menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik ke depannya. "Umur baterai pasti menjadi pertimbangan pelanggan,” ujarnya.
Begitu mahalnya baterai mobil listrik, Anton mengungkapkan, di Jepang diterapkan baterai daur ulang. Daur ulang ini mengolah baterai-baterai rusak untuk diambil selnya dan kemudian dijual lagi menjadi baterai refurbished dengan harga lebih murah.
Harga baterai refurbished itu, bisa lebih murah hingga 50 persen dari baterai baru. Kapasitas baterai maksimum yang masih sangat layak pakai, yakni sekitar 75 persen atau lebih.
Anton optimistis dalam jangka waktu sekitar lima tahun ke depan, Indonesia mampu mengikuti Jepang dalam langkah pengelolaan baterai, sehingga penggunaan mobil listrik semakin tinggi.
"Di Indonesia belum ada karena belum banyak baterainya, tapi kalau (penggunaan) baterai sudah banyak, bisnis itu bisa berkembang, di Indonesia menunggu populasi saja, lima tahun lagi bisa, kalau melihat perkembangan saat ini," ujar Anton.(ds)