Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

AI Ternyata Berdampak Buruk Bagi Lingkungan, Bikin Efek Rumah Kaca Google Semakin Meningkat

Andika Julia Perdana Putra • Kamis, 18 Juli 2024 | 19:00 WIB
Ilustrasi - Artificial Intelligence
Ilustrasi - Artificial Intelligence

RADARTUBAN - Google kini yang tengah mengembangkan teknologi AI terus mengembangkan berbagai inovasi agar AI buatan mereka menjadi lebih pintar dan lebih alami.

Kendati demikian, efek yang di timbulkan seperti efek rumah kaca meningkat 50% karena operasi pusat data yang boros energi untuk mendukung pengembangan Kecerdasan buatan atau AI.

Google melepaskan 14.3 juta metrik ton karbon dioksida ke atmosfer pada tahun 2023. Menurut laporan yang di rilis google sendiri, peningkatan gas karbondioksida tersebut lebih tinggi 48% dibandingkan tahun 2019, dan 13% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

"Hasil ini terutama disebabkan oleh peningkatan konsumsi energi pusat data dan emisi rantai pasokan. Seiring dengan semakin terintegrasinya AI ke dalam produk kami, pengurangan emisi mungkin menjadi tantangan karena meningkatnya permintaan energi yang terkait dengan peningkatan investasi infrastruktur teknis kami yang diharapkan." kata Google.

Tak hanya google, perusahaan teknologi lain seperti Microsoft, Amazon, Meta, Apple dan perusahaan lainnya tengah gencar mengembangkan teknologi AI. Hanya saja pelatihan model AI ini sangat membutuhkan pasokan energi dalam jumlah yang besar.

Pada tahun lalu para peneliti dari perusahaan AI Hugging Face berkolaborasi dengan Universitas Carnegie Mellon mengungapkan untuk menghasilkan satu gambar menggunakan kecerdasan buatan diperlukan energi sebanyak mengisi daya smartphone.

Para analis di Amerika Serikat turut mengungkapkan bahwa kecerdasan buatan akan berdampak pada meningkatnya permintaan listrik di Amerika Serikat. Total konsumsi Litrik di negara itu juga diperkirakan akan meningkat dalam dua tahun kedepan.

Tak hanya Google peningkatan efek rumah kaca juga dialami oleh Microsoft. Perusahaan tersebut pernah berjanji untuk menjadi zero karbon pada dekade ini.

Namun kenyataannya malah sebaliknya, efek rumah kaca yang di timbulkan Microsoft telah meningkat hampir 30% sejak tahun 2020 karena dibangunya pusat data untuk pelatihan model AI.

Tak hanya soal konsumsi listrik, Google pun menggunakan lebih banyak air untuk melatih AI mereka. Air digunakan sebagai media pendingin pusat data yang mendapatkan banyak beban dari pelatihan AI.

Misalnya tahun 2023 Google menggunakan 17% lebih banyak air daripada tahun sebelumnya. Angka 17% tersebut setara dengan 6.1 milliar liter yang cukup untuk mengaliri 41 lapangan golf setiap tahunnya.

"Seiring dengan terus berkembangnya bisnis dan industri kami, kami memperkirakan total emisi GRK (gas rumah kaca) kami akan meningkat sebelum turun mendekati target pengurangan emisi absolut kami," pertanyaan Google di kutip dari engadget.com.

Pengembangan AI menjadi problematika tersendiri bagi perusahaan tersebut dikala konsumsi daya dan efek rumah kaca terus ditimbulkan dan berdampak pada perubahan iklim di bumi. (*)

 

Editor : Yudha Satria Aditama
#AI #efek rumah kaca #google #lingkunan