RADARTUBAN - Penggunaan second account di Instagram semakin populer belakangan ini. Banyak pengguna media sosial ini, baik dari kalangan Gen Z maupun milenial, merasa bahwa memiliki akun kedua memberikan ruang lebih privat untuk berbagi hal-hal yang bersifat personal.
Mulai dari unggahan tentang keluarga, pekerjaan, pasangan, hingga curhatan atau repost tanpa takut dihakimi. Padahal, Instagram sendiri sudah memiliki fitur Close Friends untuk membatasi siapa yang bisa melihat unggahan tertentu. Jadi, kenapa harus repot bikin akun kedua?
Artikel ini akan membahas fenomena penggunaan second account, alasan di baliknya, hingga dampak yang mungkin muncul, termasuk kaitannya dengan kesehatan mental.
1. Apa Itu Second Account di Instagram
Second account adalah akun kedua yang dimiliki seseorang di Instagram selain akun utama. Biasanya, akun ini dibuat private dan hanya diikuti oleh sedikit orang, seperti keluarga dekat atau teman-teman terdekat.
Berbeda dengan akun utama yang sering dijadikan "etalase" kehidupan, second account lebih sering digunakan untuk:
• Berbagi cerita personal tanpa rasa khawatir dihakimi.
• Mengunggah hal-hal receh atau raw yang tidak sesuai dengan estetika feed akun utama.
• Melampiaskan perasaan negatif seperti kesedihan atau frustrasi.
Dengan second account, pengguna merasa lebih bebas mengekspresikan diri tanpa perlu khawatir akan ekspektasi sosial yang sering melekat pada akun utama.
2. Kenapa Harus Second Account, Padahal Ada Fitur Close Friends?
Fitur Close Friends di Instagram memungkinkan pengguna memilih siapa saja yang bisa melihat story mereka. Namun, nyatanya fitur ini dianggap tidak cukup oleh sebagian pengguna, sehingga mereka memilih membuat second account.
Alasannya bisa beragam, antara lain:
• Keterbatasan Close Friends: Tidak semua orang ingin menyaring satu per satu siapa yang masuk ke dalam Close Friends. Dengan second account, mereka cukup menerima follow dari orang-orang yang memang dipercaya.
• Rasa Nyaman Lebih: Second account sering dianggap sebagai "zona aman" karena hanya diikuti oleh orang-orang terpilih.
• Fleksibilitas Postingan: Akun kedua memungkinkan pengguna mengunggah lebih banyak konten tanpa memengaruhi citra mereka di akun utama.
3. Second Account dan Privasi: Pelarian dari Ekspektasi Sosial
Banyak orang menganggap second account sebagai cara untuk menjaga privasi. Di era media sosial yang penuh tekanan sosial, pengguna sering merasa perlu menampilkan kehidupan "sempurna" di akun utama. Akun kedua menjadi ruang untuk:
• Unggahan tanpa filter: Tidak perlu memikirkan estetika, likes, atau engagement.
• Mengekspresikan diri dengan bebas: Misalnya, membagikan keluh kesah, cerita lucu, atau bahkan hal-hal random tanpa khawatir dihakimi.
• Menghindari ekspektasi sosial: Second account membantu pengguna merasa lebih santai karena tidak harus mengikuti standar tertentu.
4. Bahaya Second Account: Kesehatan Mental yang Perlu Diwaspadai
Meski memberikan banyak manfaat, penggunaan second account juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan mental jika pengguna sering membagikan hal-hal seperti:
• Perasaan negatif yang mendalam.
• Curhatan tentang keputusasaan atau isolasi sosial.
• Unggahan yang menggambarkan kesedihan terus-menerus.
Menurut para ahli, meskipun second account bisa menjadi outlet untuk meluapkan emosi, penggunaan yang berlebihan bisa menjadi sinyal awal adanya gangguan seperti depresi atau kecemasan. Namun, ini harus dilihat secara keseluruhan, bukan hanya dari unggahan di media sosial saja.
5. Bagaimana Menjaga Batasan Penggunaan Second Account?
Agar penggunaan second account tetap sehat, ada beberapa tips yang bisa diikuti:
• Batasi waktu penggunaan: Jangan terlalu larut dalam scrolling atau mengunggah konten negatif.
• Jaga interaksi positif: Pastikan orang-orang dalam circle second account adalah mereka yang mendukung secara emosional.
• Evaluasi perasaan: Jika merasa terlalu sering membagikan perasaan negatif, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional.
Dengan demikian, penggunaan second account di Instagram memang bisa memberikan ruang privasi dan kebebasan berekspresi. Namun, penting untuk selalu mengevaluasi alasan di balik penggunaannya.
Apakah benar untuk kenyamanan, atau justru menjadi tempat melampiaskan emosi negatif? Dengan memahami manfaat dan risikonya, pengguna bisa memanfaatkan second account secara sehat dan bijak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni