China Gelar Lomba Lari Antara Manusia vs Robot pada April 2025
Bihan Mokodompit• Sabtu, 15 Februari 2025 | 01:08 WIB
Ilustrasi robot dan manusia (freepik.com)
RADARTUBAN - China bersiap menggelar ajang olahraga unik yang akan mencetak sejarah pada April 2025 mendatang, sebuah perlombaan lari antara manusia dan robot.
Acara ini dijadwalkan berlangsung di Distrik Daxing, Beijing, dengan format lomba half marathon (21 km).
Mengutip Hindustan Times dan berbagai sumber lainnya pada Jumat (14/2/2025), sebanyak 12.000 atlet manusia akan bertanding melawan robot humanoid dalam kompetisi ini. Pemenang lomba, baik dari kategori manusia maupun robot, akan mendapatkan hadiah.
Perlombaan ini diinisiasi oleh badan administratif Kawasan Pengembangan Ekonomi-Teknologi Beijing (E-Town), yang juga menjadi pusat utama pengembangan industri robotika di China.
Sebanyak lebih dari 20 perusahaan terlibat dalam penyediaan robot humanoid yang akan bertanding dalam ajang ini.
Agar dapat berpartisipasi, robot harus memenuhi sejumlah kriteria, termasuk memiliki bentuk humanoid dengan kemampuan berjalan atau berlari menggunakan dua kaki, bukan roda.
Berdasarkan pedoman resmi, tinggi robot harus berada dalam rentang 0,5 meter hingga 2 meter, dengan jarak ekstensinya minimal 0,45 meter dari sendi panggul hingga telapak kaki.
Robot yang dapat dikendalikan dari jarak jauh maupun yang sepenuhnya otonom diperbolehkan untuk ikut serta dalam perlombaan ini. Selain itu, operator juga diberi izin untuk mengganti baterai robot di tengah perlombaan jika diperlukan.
Salah satu robot yang akan berlaga dalam kompetisi ini adalah Tiangong. Robot humanoid ini dikembangkan oleh Embodied Artificial Intelligence Robotics Innovation Center di Tiongkok dan mampu berlari dengan kecepatan rata-rata 10 km per jam.
Tahun lalu, Tiangong telah mengikuti uji coba dengan berlari bersama manusia dalam Yizhuang Half Marathon di Beijing.
Meskipun sebelumnya hanya mampu berlari sejauh 100 meter, performa Tiangong kini mengalami peningkatan signifikan. Hal ini menunjukkan pesatnya kemajuan dalam pengembangan robot humanoid.
Lomba lari antara manusia dan robot ini bukan sekadar ajang olahraga biasa, melainkan juga bagian dari strategi besar China dalam menghadapi tantangan demografis.
Dengan populasi yang menua dan jumlah tenaga kerja yang berkurang, pemerintah China berinvestasi besar-besaran dalam otomatisasi dan robotika untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Melalui perlombaan ini, China ingin memperlihatkan kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika mereka di panggung dunia.
Kawasan E-Town sendiri memiliki peran penting dalam sektor ini, menyumbang sekitar 50 persen dari total produksi robot di Beijing dengan nilai hampir 10 miliar yuan (sekitar Rp21 triliun).
Lomba lari ini telah menarik perhatian dunia dan menjadi arena bagi perusahaan robotika terkemuka untuk menunjukkan inovasi mereka.
Beberapa perusahaan besar seperti Tesla, Boston Dynamics, dan 1X dipastikan turut serta dalam kompetisi ini, menghadirkan robot bipedal terbaik mereka untuk bertanding melawan manusia maupun robot lainnya.
Kecepatan dan inovasi akan menjadi faktor utama dalam perlombaan ini, dengan tiga pelari tercepat—baik dari kategori manusia maupun robot—akan mendapatkan penghargaan.
Selain lomba half marathon ini, China juga berencana menggelar kompetisi manusia vs robot lainnya pada Agustus mendatang.
Acara tersebut akan mencakup cabang olahraga seperti atletik, sepak bola, dan berbagai tantangan berbasis keterampilan lainnya.
Melalui serangkaian ajang ini, China semakin memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam industri robotika dan kecerdasan buatan, sekaligus menunjukkan daya saingnya di kancah global. (*)