Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kebijakan Baru di X Ala Elon Musk, Sortir Komentar yang Makin Meribetkan Pembaca

M. Afiqul Adib • Kamis, 8 Mei 2025 | 13:20 WIB
Kebijakan baru X yang bikin pengguna semakin ribet.
Kebijakan baru X yang bikin pengguna semakin ribet.

RADARTUBAN - Pernah nggak sih kamu buka salah satu postingan di Twitter—eh, maksudnya X—dan ngerasa aneh karena komentarnya nggak sebanyak biasanya?

Tenang, bukan kamu doang yang bingung.

Belakangan, makin banyak pengguna platform X yang melaporkan hal serupa: balasan-balasan nggak lagi kelihatan semua.

Kalau dulu kita bisa scrolling komentar sampai jari pegal dan mata perih, sekarang yang muncul cuma beberapa.

Sisanya? Disaring. Disortir. Dikedepankan yang “paling relevan”, “paling disukai”, atau yang terbaru.

Mungkin kedengarannya kayak ide bagus, tapi kenyataannya malah bikin ribet.

Soalnya, kita jadi nggak bisa lihat percakapan secara utuh. Kalau ada perdebatan panas atau diskusi seru, susah banget ngikutinnya.

Ada balasan yang nyambung ke komentar tertentu, tapi komentarnya malah ngilang dari tampilan utama.

Kayak nonton sinetron dari episode 47 tanpa tahu sebelumnya ada apa di episode 1 sampai 46.

Sebagai pengguna yang cuma pengin mantengin netizen saling serang atau cari bahan ketawa receh di kolom komentar, ini jelas menyebalkan.

Lebih dari itu, ini juga bikin ruang publik digital jadi terasa makin sempit. Transparansi yang dulu jadi nilai jual Twitter sekarang terasa memudar, tergantikan oleh algoritma yang mutusin apa yang layak kita lihat.

Dulu, semua balasan terbuka. Semua bisa ikut nimbrung dan dilihat sama siapa aja.

Biarpun komentarnya absurd, receh, atau bahkan nyebelin, tetap ada di sana. Sekarang? Belum tentu muncul, bahkan meskipun itu komentar kamu sendiri.

Lucunya, fitur sortir ini datang di saat X sedang berjuang membuktikan bahwa mereka adalah platform yang mendukung kebebasan berpendapat.

Tapi, ironi banget, justru komentar publik yang paling mendasar malah nggak lagi mudah diakses.

Bebas, tapi disaring dulu. Merdeka, tapi sesuai algoritma.

Buat sebagian orang, ini mungkin nggak masalah besar.

Tapi buat yang menganggap media sosial sebagai ruang diskusi dan pengawasan publik, ini jelas bahaya.

Karena ketika komentar disortir, siapa yang menjamin bahwa yang ditampilkan benar-benar “paling relevan”, bukan yang paling jinak atau paling aman buat citra tertentu?

Di sisi lain, ini juga berdampak pada budaya digital kita.

Orang jadi enggan berkomentar, atau mulai ragu: “Komentarku bakal kelihatan nggak ya?”

Lama-lama, orang bisa jadi cuek, dan ruang diskusi makin sepi, bukan karena nggak ada yang mau ngomong, tapi karena komentarnya nggak muncul.

Entah ini bagian dari “peningkatan pengalaman pengguna” atau cuma akal-akalan agar percakapan di X lebih terkontrol, yang jelas banyak pengguna mulai merindukan Twitter yang dulu—yang meskipun berisik, setidaknya jujur.

Kalau dunia nyata makin ribet dan dunia maya pun ikut-ikutan dibatasi, lalu kita harus curhat di mana? (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Komentar #netizen #Platform X #twitter