RADARTUBAN - Wakil Ketua sekaligus Presiden Microsoft, Brad Smith, dalam sidang bersama Senat Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa pihaknya melarang karyawan menggunakan aplikasi kecerdasan buatan buatan China, DeepSeek.
Larangan tersebut diberlakukan karena adanya kekhawatiran terkait keamanan data dan potensi penyebaran propaganda.
"Di Microsoft, kami tidak mengizinkan karyawan kami menggunakan aplikasi DeepSeek," kata Smith sebagaimana dikutip dalam siaran TechCrunch pada Minggu (11/5).
Smith juga menambahkan bahwa Microsoft tidak menyertakan DeepSeek dalam toko aplikasinya karena alasan keamanan yang sama.
Meskipun berbagai organisasi dan negara telah menerapkan pembatasan terhadap DeepSeek, ini merupakan kali pertama Microsoft secara terbuka menyatakan pelarangan penggunaan aplikasi tersebut oleh karyawannya.
Smith menjelaskan bahwa larangan tersebut didasari oleh risiko terkait penyimpanan data di China serta kekhawatiran bahwa jawaban yang dihasilkan oleh DeepSeek dapat dipengaruhi oleh “propaganda China.”
Dalam kebijakan privasinya, DeepSeek menyebutkan bahwa data pengguna disimpan di server yang berlokasi di China, dan pengelolaannya tunduk pada hukum setempat yang mengharuskan kerja sama dengan badan intelijen negara.
Selain itu, DeepSeek juga diketahui menerapkan penyensoran ketat terhadap topik-topik yang dianggap sensitif oleh pemerintah China.
Meskipun Brad Smith mengkritik DeepSeek, Microsoft tetap menyediakan model AI DeepSeek R1 di layanan cloud Azure tak lama setelah model tersebut viral di awal tahun ini.
Namun, penawaran ini berbeda dengan aplikasi chatbot DeepSeek, karena hanya mencakup model open source-nya.
Sebagai model open source, DeepSeek dapat diunduh dan dijalankan secara lokal tanpa perlu mengirim data kembali ke China.
Meski begitu, penggunaan model ini tetap menyisakan potensi risiko, seperti penyebaran propaganda atau pembuatan kode yang tidak aman.
Dalam sidang bersama Senat Amerika Serikat, Smith juga mengungkapkan bahwa Microsoft berhasil "masuk ke dalam model AI DeepSeek" dan melakukan "modifikasi" guna menghilangkan sejumlah "efek samping yang berbahaya."
Meski demikian, Microsoft tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait jenis perubahan yang dilakukan terhadap model tersebut.
Saat peluncuran awal DeepSeek di Azure, Microsoft menyatakan bahwa model tersebut telah melalui proses "pengujian ketat dan evaluasi keamanan" sebelum disediakan di platform cloud-nya.
Aplikasi DeepSeek sendiri merupakan pesaing langsung dari layanan pencarian berbasis percakapan milik Microsoft, yakni Copilot.
Meski demikian, Microsoft tidak memberlakukan pelarangan terhadap aplikasi pesaing di toko aplikasi Windows—sebagai contoh, aplikasi Perplexity masih tersedia di Windows App Store.
Namun, aplikasi milik Google—yang merupakan kompetitor utama Microsoft—seperti browser Chrome dan chatbot Gemini, tidak muncul dalam hasil pencarian di toko aplikasi Windows. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama