RADARTUBAN - Perilisan trailer DreadOut 3 selain mendapatkan sambutan hangat dari komunitas, Digital Happiness selaku pengembang juga mendapati sambutan kurang mengenakkan.
Hal ini terjadi karena polemik penggunaan AI pada promotion art DreadOut 3 mencuat di sosial media belakangan.
Polemik tersebut memunculkan diskusi panas di dalam komunitas gamer tanah air.
Pasalnya banyak yang curiga promotion art tersebut mengandung beberapa kejanggalan visual meliputi karakter utama yakni Linda yang tengah digambarkan menghadap ke sebuah cermin.
Sejumlah orang menyoroti ketidaksesuaian anatomi tubuh, komposisi gambar, maupun pencahayaan.
Kejanggalan tersebut dijadikan bukti oleh komunitas untuk membuktikan ilustrasi tersebut merupakan buatan AI.
Menanggapi permasalahan tersebut, CEO Digital Happiness, Rachmad Imron angkat bicara dalam sebuah postingan di sosial medianya.
Dalam pertanyaannya, Rachmad menegaskan bahwa seluruh proses kreatif pada proses pengembangan DreadOut 3.
Termasuk promotion art dilakukan sepenuhnya oleh tim internal tanpa melibatkan AI.
Lebih lanjut, Rachmad mengatakan seluruh aset visual yang dihasilkan Digital Happiness merupakan karya original dari seniman dibalik layar.
Selain CEO, Public Relation & Marketing Manager Digital Happiness, Andre Agam juga mengeluarkan pernyataan serupa.
Dilansir dari GGWP, Andre membantah adanya keterlibatan AI dalam proses pengembangan serta menyayangkan hal ini terjadi.
Pasalnya pembuat promotion art DreadOut 3, yakni Omupied sudah menjadi bagian dari keluarga dekat Digital Happiness dan telah terlibat dalam banyak proyek kreatif bersama.
Bahkan Andre juga menjelaskan ilustrasi tersebut menggunakan teknik Photo Bashing.
Sebagai gambaran teknik ini akan menggabungkan beberapa foto sebagai referensi visual.
Kemudian seniman akan mulai menggambar ulang secara manual untuk menghasilkan karya final.
Dalam keterangannya, Andre menjelaskan teknik ini umum dipakai di industri kreatif dan berbeda dengan generatif AI.
Selain mengklarifikasi terkait promotion art, Andre juga angkat bicara mengenai pernyataan sang CEO Rachmad Imron pada podcast The Lazy Monday bulan Maret 2024.
Dia mengatakan benar Digital Happiness menggunakan AI, tetapi hanya pada proses pra produksi.
Dia juga menyebut penjelasan Rachmad telah disalahartikan oleh komunitas gamer.
Penggunaan AI hanya sebagai panduan awal, bukan digunakan pada saat proses produksi.
Andre menggambarkan penggunaan AI sama seperti bertanya pada ChatGPT cara memasak.
Meskipun bertanya pada AI, tetapi yang memasak tetaplah orangnya, bukan AI.
Terlepas dari polemik yang menerpa Digital Happiness, DreadOut 3 tetap menjadi salah satu game horor lokal yang paling dinantikan.
Melanjutkan kesuksesan dari dua seri sebelumnya, DreadOut 3 diharapkan mengikuti jejak yang sama di kancah nasional maupun internasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni