Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Rusia Siapkan Aplikasi Pengganti WhatsApp dan Telegram yang Terintegrasi Layanan Pemerintah

Nadia Nafifin • Jumat, 13 Juni 2025 | 17:34 WIB
WhatsApp dan Telegram akan digeser aplikasi buatan Rusia yang lebih terhubung ke layanan negara. Langkah ini dorong kemandirian digital.
WhatsApp dan Telegram akan digeser aplikasi buatan Rusia yang lebih terhubung ke layanan negara. Langkah ini dorong kemandirian digital.

RADARTUBAN - Rusia berencana mengembangkan aplikasi pesan instan buatan lokal sebagai pengganti platform populer seperti WhatsApp dan Telegram.

Aplikasi ini dirancang untuk terhubung secara langsung dengan berbagai layanan pemerintahan.

Parlemen telah menyetujui inisiatif tersebut, mendukung pengembangan aplikasi pesan nasional yang akan memiliki integrasi kuat dengan sistem layanan publik negara.

Selama ini, Moskow terus berupaya mengurangi ketergantungan terhadap platform asing seperti WhatsApp dan Telegram.

Rusia juga berkomitmen membangun kedaulatan digital dengan mendorong penggunaan layanan domestik.

Meski Telegram diciptakan oleh Pavel Durov yang berasal dari Rusia, dia dianggap sudah tidak lagi terkait dengan negara karena telah lama meninggalkannya.

Upaya untuk mengganti layanan teknologi asing menjadi semakin mendesak setelah sejumlah perusahaan Barat menghentikan operasinya di Rusia pascainvasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Anton Gorelkin, wakil ketua komite kebijakan informasi di parlemen Rusia, menyatakan bahwa aplikasi pesan buatan Rusia akan menyediakan fitur komunikasi seperti pesan dan panggilan, serta kemampuan tambahan yang tidak tersedia di WhatsApp dan Telegram.

"Keunggulan kompetitif utama dari platform ini adalah integrasi yang mendalam dengan layanan pemerintah," kata Gorelkin di Telegram, melansir Reuters , Jum'at (13/6).

Rancangan undang-undang ini masih perlu mendapat persetujuan dari majelis tinggi parlemen dan membutuhkan tanda tangan Presiden Vladimir Putin sebelum resmi diberlakukan.

Menteri Pengembangan Digital, Maksut Shadayev, sebelumnya menyarankan agar layanan pemerintah diintegrasikan dengan aplikasi pesan lokal dalam sebuah pertemuan bersama Putin. Ia menekankan bahwa Rusia masih tertinggal dibandingkan negara lain dalam bidang ini.

Shadayev juga memberikan apresiasi kepada perusahaan teknologi milik negara, VK, yang mengelola platform media sosial VKontakte—digunakan oleh hampir 80 juta warga Rusia setiap harinya. Popularitas VK meningkat berkat hadirnya layanan seperti VK Video, yang menjadi pesaing YouTube.

Pengguna YouTube di Rusia mengalami penurunan tajam tahun lalu, dari lebih dari 40 juta per hari pada pertengahan 2024 menjadi kurang dari 10 juta pengguna harian. Penurunan ini dipicu oleh melambatnya kecepatan unduhan yang menyulitkan akses ke platform tersebut.

Pejabat Rusia menuduh Google sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perlambatan tersebut, dengan alasan perusahaan tidak berinvestasi pada infrastruktur digital di Rusia dan menolak mengaktifkan kembali saluran-saluran milik Rusia yang sebelumnya diblokir.

Namun, pihak YouTube membantah bahwa penurunan akses disebabkan oleh kebijakan atau masalah teknis dari pihak mereka.

Sementara itu, Mikhail Klimarev, direktur Internet Protection Society—sebuah organisasi hak digital di Rusia—menyampaikan lewat Telegram bahwa dia menduga pemerintah Rusia bisa saja memperlambat akses ke WhatsApp dan Telegram demi memberi jalan bagi aplikasi pesan nasional.

Dia mengingatkan bahwa langkah tersebut dapat mengancam kebebasan individu. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#rusia #whatsapp #digital #telegram #layanan pemerintah