Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Indonesia Krisis Tenaga Ahli Keamanan Siber, Ancaman Digital Meningkat

Muhammad Rizqi Mustofa Kamal • Jumat, 20 Juni 2025 | 01:57 WIB

 

Indonesia Alami 7,9 Juta Serangan Siber, Tertinggi Kedua di Asia Tenggara
Indonesia Alami 7,9 Juta Serangan Siber, Tertinggi Kedua di Asia Tenggara

RADARTUBAN - Dunia, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan serius terkait kekurangan tenaga ahli dalam bidang keamanan siber.

Menurut World Economic Forum, diperkirakan ada defisit sekitar empat juta profesional keamanan siber secara global, dengan kawasan Asia-Pasifik paling terdampak.

Di Indonesia, 80 persen organisasi mengaku kekurangan pakar di bidang ini, yang meningkatkan risiko kebocoran data, serangan ransomware, serta gangguan pada layanan publik dan sektor swasta yang penting.

Minimnya jumlah ahli keamanan siber dapat mengancam ketahanan infrastruktur digital nasional.

Serangan siber yang semakin canggih menargetkan sistem kritis dan data sensitif, mempengaruhi tidak hanya institusi pemerintah tetapi juga sektor swasta, termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hanief Bastian, Regional Technical Head ManageEngine Indonesia, menegaskan bahwa krisis ini dapat menghambat inovasi digital. 

Dia menyatakan bahwa organisasi mungkin ragu untuk mengadopsi teknologi baru tanpa jaminan keamanan yang memadai.

Sementara UMKM sangat rentan karena sumber daya terbatas dan ancaman dari pelaku kejahatan siber yang semakin terorganisir.

Keamanan siber kini dianggap sebagai fungsi strategis, bukan hanya urusan teknis.

Strategi keamanan yang efektif harus terintegrasi dengan tujuan bisnis dan mampu beradaptasi dengan perubahan regulasi.

Keahlian dalam keamanan siber kini juga memerlukan kemampuan komunikasi yang baik dengan pemangku kepentingan non-teknis serta pemahaman konteks bisnis.

Untuk mengatasi kesenjangan keahlian, teknologi yang user-friendly seperti solusi low-code dan no-code serta sistem manajemen patch otomatis menjadi penting.

Pemantauan ancaman secara real-time dan dashboard keamanan yang intuitif juga diperlukan agar semua orang di tim TI dapat merespons ancaman dengan cepat.

Membangun pertahanan siber yang kuat di Indonesia memerlukan kolaborasi lintas sektor.

Pendekatan komprehensif diperlukan, termasuk pelatihan ulang dan peningkatan kapasitas SDM, serta otomatisasi tugas rutin.

Hanief menekankan bahwa keamanan digital merupakan kombinasi antara sumber daya manusia yang tepat, proses yang terdefinisi, dan teknologi yang efektif. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#UMKM #asia #keamanan siber #profesional #krisis SDM