RADARTUBAN – Dunia teknologi kembali memanas.
Pemerintah Jerman secara terbuka mendesak Apple dan Google untuk menghapus DeepSeek, aplikasi kecerdasan buatan (AI) buatan China, dari toko aplikasi mereka.
Alasannya? Ancaman kebocoran data pengguna ke Tiongkok.
Permintaan resmi ini disampaikan langsung oleh Komisioner Perlindungan Data Jerman, Meike Kamp, yang menyoroti risiko transfer data ilegal lintas negara, terutama yang melibatkan negara dengan tingkat pengawasan tinggi seperti China.
“DeepSeek belum bisa membuktikan bahwa data pengguna asal Jerman aman dan dilindungi sesuai standar Uni Eropa,” ujar Kamp, dikutip dari CNBCIndonesia, Sabtu (28/6).
DBaca Juga: DeepSeek Guncang Dunia AI, Meutya Hafid: Investasi Rp 97 Miliar Bisa Ubah Peta Global
Masalah utama bukan sekadar soal teknologi, tapi soal kedaulatan data pribadi.
Dalam kebijakan privasinya, DeepSeek menyimpan data pengguna—termasuk perintah teks dan file yang diunggah—di server yang berlokasi di Tiongkok.
Ini menimbulkan kekhawatiran karena, menurut Kamp, otoritas China memiliki hak hukum untuk mengakses data pribadi perusahaan-perusahaan di bawah pengaruh negara.
"Ini bukan hanya soal satu aplikasi, tapi soal bagaimana negara bisa mengakses data pribadi jutaan orang hanya karena lokasi server dan kepemilikan aplikasi," tandasnya.
Sebelumnya, pada Mei lalu otoritas Jerman telah meminta DeepSeek mematuhi regulasi transfer data internasional UE atau menarik diri secara sukarela.
Namun, hingga kini, DeepSeek tidak menggubris permintaan itu.
Kini, Jerman meminta dua raksasa Silicon Valley—Apple dan Google—untuk meninjau dan mempertimbangkan penghapusan DeepSeek dari App Store dan Google Play.
Google telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang mempelajari permintaan tersebut.
Sedangkan Apple masih belum memberikan tanggapan. DeepSeek sendiri memilih bungkam.
Apa Itu DeepSeek? Mengapa Mendadak Jadi Ancaman?
DeepSeek dikenal sebagai salah satu alternatif AI chatbot asal China yang berkembang pesat di luar Tiongkok.
Dengan fitur yang menyaingi ChatGPT, DeepSeek mulai menarik perhatian pengguna global, terutama di Eropa.
Namun, popularitas ini justru membuat regulator makin waspada. AI + data pribadi + lokasi server di China = kombinasi yang menimbulkan alarm pengawasan data internasional.
Krisis Kepercayaan Global Terhadap Aplikasi China?
Kasus DeepSeek mencerminkan ketegangan global dalam isu keamanan data dan teknologi AI, terutama di tengah persaingan geopolitik antara Barat dan China.
Regulasi Eropa seperti GDPR dirancang untuk memberi perlindungan maksimal terhadap pengguna, dan kini diuji saat berhadapan dengan model bisnis teknologi dari luar blok tersebut.
Kasus ini bisa menjadi preseden besar bagi aplikasi-aplikasi asal China yang beroperasi di wilayah Uni Eropa.
Bukan tidak mungkin, setelah DeepSeek, giliran aplikasi lain seperti TikTok atau CapCut yang ikut diaudit ulang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni