RADARTUBAN - Perusahaan teknologi yang dulu merajai industri semikonduktor, Intel, kini harus menghadapi kenyataan yang pahit.
Dalam pidato kepada karyawannya baru-baru ini, Lip-Bu Tan, CEO baru Intel terbuka untuk mengakui posisi perusahaan kini telah jauh merosot.
Menurutnya, puluhan tahun lalu mereka menjadi nomor satu dalam industri ini, tetapi kini Intel bahkan tidak masuk dalam 10 perusahaan semikonduktor.
“Dua puluh, tiga puluh tahun lalu, kami benar-benar pemimpin,” ujar Tan.
“Sekarang, saya pikir dunia telah berubah. Kami bahkan tidak termasuk dalam 10 besar perusahaan semikonduktor.” tambahnya.
Pernyataan Tan ini muncul di tengah restrukturisasi besar-besaran yang ada di internal Intel. Restrukturisasi ini mengakibatkan ribuan karyawan terkena PHK.
Selain itu nilai pasar Intel juga mengalami penurunan hingga di bawah separuh dari nilai pasar akhir 2023.
Sedangkan pesaing Intel seperti NVIDIA justru tumbuh melesat hingga mencapai kapitalisasi pasar lebih dari $4 triliun.
Sejumlah masalah disebut Tan menjadi biang keladi kemunduran Intel, termasuk ketidakmampuan perusahaan dalam bersaing di ranah AI.
Tan mengakui Intel sudah tertinggal jauh dari pesaing seperti NVIDIA dan bahkan sulit untuk mengejarnya dalam bidang pengembangan chip AI.
Kendati jauh tertinggal, Lip-Bu Tan tetap optimistis Intel bisa bangkit dan mengejar ketertinggalannya meskipun akan memakan waktu yang panjang.
Dia menggambarkan proses kebangkitan ini dengan lari maraton.
Keputusan seperti memutus hubungan kerja ribuan karyawan diambil sebagai langkah untuk membuat perusahaan lebih gesit, layaknya kompetitor seperti AMD, Broadcom, dan NVDIA.
Selain itu, Tan juga mengajak seluruh karyawannya untuk lebih rendah hati, mendengarkan seluruh kebutuhan pelanggan, dan terus mau untuk beradaptasi dengan perubahan.
Meskipun tertinggal dalam bidang AI, Tan yakin Intel masih memiliki peluang dibidanh lain seperti komputer pribadi berbasis AI yang hingga kini masih menjadi sektor adalan Intel.
Hanya saja, para analis sepakat untuk mewanti-wanti Intel yang kehilangan banyak talenta bisa menjadi batu sandungan perusahaan dalam upaya kembali bersinar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni