RADARTUBAN - Siapa yang masih ingat dengan nama RedOctane? Bagi yang lupa, RedOctane merupakan nama yang dikenal melalui game populer Guitar Hero dan DJ Hero beberapa tahun silam.
Kini RedOctane kembali bangkit dengan nama baru yakni RedOctane Games yang digawangi oleh veteran dibalik game ritme yang ikonik.
Pengembang tersebut dikabarkan tengah memproduksi judul game baru yang direncanakan akan rilis pada akhir tahun ini.
RedOctane dulu berkerja sama dengan Harmonix untuk menciptakan Guitar Hero pertama pada tahun 2005.
Tak lama studio tersebut diakusisi oleh Activision yang menghasilkan game Guitar Hero III dan World Tour bersama Neversoft.
Hanya saja lima tahun kemudian studio ini harus terpaksa tutup akibat PHK besar-besaran yang dilakukan oleh Activision.
Dan setelah 15 tahun lamanya, RedOctane kembali hadir dengan visi baru yang lebih segar.
Studio ini kini dipimpin oleh Simon Ebejer, mantan pengembang Guitar Hero III dan eks Wakil Presiden Operasional Diablo di Blizzard.
Tidak sampai disana, dua pendiri asli RedOctane yakni Charles Huang dan Kai Huang juga hadir sebagai penasehat khusus.
RedOctane Games tidak hanya menjaring wajah lama tetapi juga merekrut talenta baru dari komunitas game ritme global.
Dalam pernyataannya, RedOctane berambisi untuk menghadirkan pengalaman game ritme ke level yang lebih segar dan inovatif.
"Game ritme lebih dari sekadar permainan, melainkan tentang rasa, alur, dan koneksi dengan musik," ujar Ebejer dalam siaran pers dikutip dari WccfTech.
"RedOctane Games adalah cara kami untuk berkontribusi kembali pada genre yang sangat berarti bagi kami, sekaligus mendorongnya ke arah yang baru dan menarik," tambahnya.
Meski begitu, hingga saat ini RedOctane belum mengungkap proyek perdananya itu.
Studio tersebut hanya menjelaskan bahwa proyek mereka bukan sekedar versi lain dari Guitar Hero, tetapi game ritme yang dibuat dengan cinta serta berfokus pada dunia modern.
Dengan pengalaman panjang menghadirkan game ritme ikonik, menarik untuk ditunggu karya baru RedOctane setelah belasan tahun tertidur akibat badai PHK. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni