RADARTUBAN - Chatbot AI milik xAI, yakni Grok, kembali menjadi sorotan publik setelah kecerdasan buatan tersebut menyebut video penembakan terhadap aktivis politik AS, Charlie Krik dianggap sebagai 'suntingan meme'.
Hal tersebut jelas keliru, meningat insiden pembunuhan tersebut nyata terjadi dan dikonfirmasi oleh aparat setempat, serta dilaporkan secara global oleh media arus utama.
Kesalahan Grok tersebut menimbulkan banyak pertanyaan serius mengenai chatbot AI yang menyebarkan informasi keliru.
Dengan menggabungkan tragedi dan mengatakannya sebagai lelucon, Grok menjadi tanda bagaimana AI mampu mengaburkan batas antara fakta dan spekulasi liar.
Yang menjadi masalah adalah, chatbot seperti Grok dan banyak jenis lainnya dibuat untuk menghasilkan jawaban berdasarkan pola data yang ada, bukan untuk memverifikasi sebuah kebenaran.
Kemudian jika sebuah topik telah dipenuhi oleh meme atau rumor liar, AI bisa saja menggunakan informasi tersebut tanpa memisahkan mana informasi valid dan mana yang hanya sekedar rumor atau meme belaka.
Hal ini tentu saja akan berbahaya jika menyangkut situasi krisis, katena respon yang keliru sekecil apapun apam berpengaruh terhadap situasi yang ada.
Selain menyoroti Grok, peran pengguna juga mendapat banyak sorotan mengingat chatbot seperti Grok dibuat sebagai alat bantuk percakapan atau produktivitas pengguna, bukan sebagai sumber informasi kedaruratan.
Kendati begitu, tanggung jawab utama tetap berada pada penyedia layanan AI.
Kesalahan Grok tersebut menjadi pengingat nyata bahwa AI tanpa adanya batasan yang jelas, dapat menjadi sumber misinformasi yang menyebar dengan cepat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni