RADARTUBAN - Hanya berselang sekitar satu hari dari rumornya, perusahaan game Electronic Arts (EA) resmi menyetujui akuisisi senilai $55 miliar atau setara Rp 880 triliun.
Akuisisi ini sekaligus mengakhiri status perusahaan yang semula berstatus publik selama 35 tahun dan kini berubah menjadi perusahaan swasta.
Kesepakatan ini melibatkan konsorsium investor yang terdiri atas Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF), Silver Lake, dan Affinity Partners, sekaligus menjadi pembelian saham dengan leverage terbesar yang pernah tercatat.
Andrew Wilson, selaku CEO EA, mengatakan bahwa kesepakatan ini sebagai bentuk pengakuan terhadap karya tim kreatif EA yang telah menghadirkan pengalaman bermain bagi jutaan gamer di seluruh dunia.
Meski begitu, akuisisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai strategi EA kedepannya terutama terkait bisnis gamenya dengan pemilik baru.
Selama beberapa tahun belakangan, perusahaan ini tak lepas dari banyaknya masalah.
Bahkan EA telah memangkas lebih dari 650 karyawan, menutup studio, dan membatalkan proyek game Black Panther.
Sejumlah laporan terbaru menyebut adanya kemungkinan gelombang PHK kembali terjadi seiring dengan konsorsium investor yang berencana memanfaatkan AI untuk memangkas biaya operasional dan mengelola utang dari kesepakatan ini.
Pasalnya, menurut Bloomberg, akuisisi ini sebagian didanai oleh utang senilai $20 miliar yang didapat dari JPMorgan Chase & Co.
Jumlah utang ini hampir empat kali lipat dari utang LBO yang sempat menjerat Toys R US.
Tidak mengherankan jika hal ini memunculkan kekhawatiran adanya gelombang PHK lanjutan.
Tetapi di sisi lain, akuisisi ini yang menempatkan EA menjadi perusahaan non publik membuat perusahaan memiliki ruang lebih guna membuat keputusan jangka panjang tanpa tekanan dari pasar saham.
Kesepakatan akuisisi EA diperkirakan akan selesai pada kuartal awal tahun 2027 sembari menunggu persetujuan dari regulator.
Andrew Wilson akan tetap menjabat sebagai CEO dengan kantor pusat tetap berada di Redwood City, California, AS. (*/lia)
Editor : radar tuban digital