RADARTUBAN – Ancaman siber di dunia pendidikan dan kesehatan di Jawa Timur terus meningkat seiring pesatnya transformasi digital di dua sektor vital tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pun mengambil langkah konkret dengan menggelar Asistensi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) di ruang Anjasmara Dinas Kominfo Jatim, Selasa (7/10).
Kegiatan ini melibatkan perwakilan rumah sakit, sekolah, dan perguruan tinggi se-Jawa Timur, termasuk SMK Telkom dan SMK Negeri Pungging yang dikenal aktif dalam penguatan keamanan siber Jawa Timur.
Serangan Malware Capai 2,6 Juta Upaya di Jawa Timur
Kepala Bidang Persandian dan Keamanan Informasi Dinas Kominfo Jawa Timur, Achmad Fadlil Chusni, S.Kom., M.MT, mengungkapkan fakta mengejutkan: sepanjang 2025, tercatat lebih dari 2,6 juta serangan malware yang mencoba menembus sistem digital di wilayah ini. Dari jumlah tersebut, 10.519 malware berhasil diblokir.
“Sepanjang tahun 2025, terdapat lebih dari 2,6 juta upaya serangan malware yang terdeteksi di Jawa Timur. Dari jumlah itu, 10.519 malware berhasil diblokir. Bahkan, pada September saja, tercatat 91 insiden siber di jaringan Protector ID, mulai dari kebocoran data hingga serangan DDoS,” ungkapnya.
Data tersebut menegaskan bahwa ancaman siber di dunia pendidikan dan kesehatan bukan lagi isu teknis semata, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan layanan publik.
Dorongan Pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber di Daerah
Untuk memperkuat pertahanan digital, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong pembentukan Tim Tanggap Insiden Siber di tingkat kabupaten/kota.
Hingga kini sudah ada 34 tim CSIRT yang terbentuk, dan ditargetkan seluruh 38 kabupaten/kota segera memiliki tim tangguh dalam menghadapi ancaman digital.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang keamanan siber Jawa Timur yang menitikberatkan pada kesiapsiagaan lokal.
Dengan adanya Tim Tanggap Insiden Siber di setiap daerah.
Diharapkan respons terhadap kebocoran data, serangan DDoS, hingga penyebaran malware dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Kolaborasi Lintas Sektor Demi Keamanan Publik
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Pembangunan Manusia BSSN, Agus Prasetyo, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan siber nasional.
Menurutnya, digitalisasi di bidang pendidikan dan kesehatan membawa manfaat besar sekaligus meningkatkan risiko serangan.
“Keamanan informasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama,” tegas Agus.
Ia menambahkan, asistensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kemampuan sumber daya manusia dalam mendeteksi, merespons, dan memitigasi insiden siber.
“Kolaborasi antara BSSN, pemerintah daerah, sektor pendidikan, kesehatan, dan swasta sangat penting agar layanan publik tetap aman dari ancaman digital,” ujarnya.
Membangun Jawa Timur yang Tangguh di Era Digital
Pemerintah Jawa Timur berkomitmen menjadikan keamanan siber Jawa Timur sebagai prioritas utama, terutama di sektor-sektor yang bersinggungan langsung dengan pelayanan publik.
Keberadaan Tim Tanggap Insiden Siber di sekolah, rumah sakit, dan instansi pemerintah menjadi garda terdepan dalam menjaga data masyarakat tetap aman.
Dengan ancaman yang terus berkembang, mulai dari serangan malware hingga pencurian data, kesadaran kolektif menjadi kunci.
Melalui sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan sektor kesehatan, ancaman siber di dunia pendidikan dan kesehatan diharapkan dapat ditekan, sehingga transformasi digital bisa berjalan aman dan berkelanjutan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama