RADARTUBAN - Kita semua sepakat jika AI telah hampir merubah segalanya di jaman sekarang, mulai dari aspek hiburan, hingga kesehatan.
Meskipun banyak menuai kontroversi terkait dampak buruk, tetapi jelas perkembangan teknologi tidak dapat dibendung begitu saja.
Hanya saja, diluar dampak buruknya, AI juga membawa masalah lain, yakni kenaikan harga memori terkhususnya RAM.
Pasalnya mulai tahun depan RAM diperkirakan akan semakin langka dan menjadi barang mewah layaknya emas.
Sejumlah kabar mengatakan ponsel berbekal RAM 16 GB kemungkinan besar akan menghilang dari pasar. Di sisi lain, perangkat dengan kapasitas RAM 4GB yang sempat ditinggalkan, justru akan kembali mengisi di segmen ponsel murah.
Kondisi ini dipicu oleh melonjaknya harga chip memori secara global.
Vendor smartphone kini hanya memiliki dua pilihan yakni menaikkan harga atau memangkas spesifikasi yang dibawa.
Tetapi di pasar yang sensitif harga seperti Indonesia, menurunkan spesifikasi dinilai sebagai langkah yang lebih realistis.
Akibatnya konfigurasi RAM yang dibawa ponsel dikorbankan demi menekan biaya produksi yang melambung.
Berbagai laporan mengatakan ponsel dengan RAM 12GB akan berkurang hingga lebih dari 40 persen. Posisi tersebut akan digantikan oleh varian RAM 6 dan 8GB.
Bahkan laporan lain juga mengatakan ponsel dengan RAM 8GB akan menyusutebih dari 50 persen dan digeser oleh ponsel berkapasitas RAM 6 dan 4GB.
Penyebab utama kelangkaan ini tak lain karena meningkatnya permintaan chip memori bandwith tinggi (HBM) dan DRAM GDDR5 untuk pusat dasa berbasis AI.
Kebutuhan AI yang semakin melonjak membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen semakin terbatas.
Dampak krisis ini diperkirakan mulai terasa nyata pada kuartal pertama tahun depan, ketika stok memori mulai menipis dan biaya produksi melonjak. Tak hanya ponsel, pasar laptop juga turut terdampak hal ini.
Pengiriman laptop dengan RAM di atas 16GB diprediksi turun drastis, sedangkan untuk model 8GB tetap dipertahankan namun memiliki harga lebih mahal dari biasanya.
Dengan situasi ini, konsumen mau tak mau harus menghadapi era baru perangkat dengan spesifikasi RAM yang lebih rendah, tetapi harga belum tentu lebih ramah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni