RADARTUBAN - iPhone Fold menjadi pembicaraan hangat para pengguna gadget, khususnya Gen Z yang ingin punya iPhone Fold meskipun harga diperkirakan jauh di atas UMP Jatim.
Minat Gen Z terhadap gadget premium seperti iPhone Fold itu menggambarkan perubahan perilaku konsumen muda yang melebihi sekadar fungsi telepon.
Apple dikabarkan akan meluncurkan ponsel lipat pertamanya, iPhone Fold, sekitar 2026 atau 2027, meskipun produksi dan ketersediaannya masih menimbulkan prediksi bervariasi dari analis industri teknologi.
Kenapa Gen Z Kemungkinan Suka iPhone Fold?
Banyak Gen Z yang diprediksi ingin memiliki iPhone Fold bukan tanpa alasan.
Faktor pertama adalah identitas sosial. Untuk kalangan muda, terutama yang aktif di media sosial, memiliki iPhone Fold sering dipandang sebagai simbol status yang “keren”.
Istilah smartphone premium bagi Gen Z bukan hanya tentang spek, tetapi juga tentang simbol yang mencerminkan gaya hidup modern.
Kedua, Gen Z sangat fokus pada pembuatan konten kreatif. Kamera berkualitas tinggi dan integrasi dengan aplikasi media sosial membuat iPhone sering jadi pilihan utama.
Meskipun harga iPhone Fold terprediksi sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan standar upah minimum di banyak daerah seperti UMP Jatim, Gen Z tetap melihat perangkat ini sebagai investasi konten masa depan.
Selain itu, ekosistem Apple yang terhubung mulus dengan perangkat lain (seperti iPad, MacBook, AirPods) membuat banyak Gen Z yang sudah terbiasa dengan iPhone model sebelumnya merasa nyaman untuk “upgrade”.
Harga Premium dan Realita Ekonomi
Satu hal yang menarik adalah fenomena keinginan ini berlangsung meski iPhone Fold nantinya kemungkinan dijual dengan harga sangat tinggi.
Beberapa analis teknologi memperkirakan bahwa iPhone Fold bisa dihargai sekitar $1.800–$2.500 (sekitar Rp29 jutaan sampai di atas Rp40 jutaan) atau bahkan lebih mahal tergantung kurs dan modelnya.
Harga seperti ini jelas berada jauh di atas UMP Jatim saat ini. Namun, sebagian Gen Z yang ingin punya iPhone Fold justru melihatnya sebagai tujuan finansial jangka panjang, bukan sekadar pembelian impulsif.
Mereka lebih memandang gadget sebagai alat eksperimen kreatif, tempat membangun portofolio konten atau modal personal branding di platform digital.
Pengaruh Tren dan Media Sosial
Peran influencer dan tren digital juga sangat besar dalam mendorong minat Gen Z untuk punya iPhone Fold.
Di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, ulasan gadget premium sering menjadi konten populer yang menarik perhatian pengguna muda.
Ketika banyak konten kreator memakai atau membahas iPhone Fold, itu secara tidak langsung menciptakan keinginan kuat di kalangan penonton.
Terlebih lagi, fenomena yang terjadi di komunitas online memperkuat persepsi bahwa iPhone Fold bukan sekadar gadget, tetapi juga alat kreatif yang mampu mendukung gaya hidup dan ekspresi generasi muda.
Aspirasi atau Realitas?
Minat Gen Z untuk punya iPhone Fold, meskipun penghasilan di bawah UMP Jatim, menunjukkan perubahan signifikan dalam prioritas konsumen muda.
Keinginan ini mencerminkan lebih dari sekadar fenomena konsumtif; ini juga tentang nilai simbolik, fungsi kreatif, serta tren digital yang kuat.
Walaupun tidak semua Gen Z pada akhirnya bisa membeli, aspirasi tersebut tetap menjadi bagian penting dari bagaimana mereka menilai teknologi dan gaya hidup di era sekarang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama