RADARTUBAN - Kecerdasan buatan atau AI yang sedang tren saat ini menjelma sebagai pedang bermata dua.
Satu sisi teknologi ini membantu banyak pekerjaan manusia, tetapi di sisi lain membawa bahaya dan resiko yang sebelumnya tidak pernah ada.
Perusahaan AI terkemuka, OpenAI menyadari hal tersebut dan akan memperkuat sistem keselamatan AI mereka.
Perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat itu resmi membuka lowongan kerja untuk bagian Kepala Kesiapsiagaan yang bertugas mengantisipasi risiko baru seiring meningkatnya kemambuat model AI-nya.
Langkah ini diambil di tengah banyaknya sorotan tajam terhadap dampak negatif dari penggunaan AI, terutama setelah OpenAI mendapatkan banyak gugatan hukum dari berbagai pihak.
Dalam unggahan di platform X, CEO OpenAI, Sam Altman mengakui bahwa tahun AI telah berdampak serius pada kesehatan mental bersamaan dengan tantangan lain seperti keamanan siber.
Kepala Kesiapsiagaan sendiri akan bertugas untuk memimpin strategi teknis dan pelaksanaan sistem keamanan di OpenAI.
Sistem tersebut dirancang agar dapat memantau serta mempersiapkan risiko yang serius dan kemampuan AI mulai dari potensi penyalahgunaan, ancaman keamanan komputer, hingga isu biologis.
OpenAI menawarkan gaji hingga $555 ribu pertahun atau setara dengan Rp 8,8 miliar, tidak termasuk ekuitas.
Altman mengatakan posisi tersebut sangat krusial sekaligus penuh dengan tekanan.
Siapapun yang terpilih diharapkan mampu menyeimbangkan manfaat AI tanpa membuka celah keamanan serius, sekaligus memastikan teknologi tersebut aman untuk digunakan banyak orang.
Pembentukan tim Kesiapsiagaan sendiri diumumkan pada tahun 2023 lalu untuk mengkaji risiko seperti praktik phising maupun risiko lain yang bersifat spekulatif.
Tetapi dalam dua tahun terakhir, tim ini sering kali bergonta-ganti kepemimpinan.
Mantan Kepala Kesiapsiagaan, Aleksander Madry dialihkan tugasnya pada tahun 2024, disusul pergeseran peran beberapa eksekutif keselamatan lainnya.
Sejalan dengan dibukanya posisi ini, Open AI juga akan memperbarui kerangka kerja kesiapsiagaan serta membuka kemungkinan penyesuaian jika pesaing merilis model berisiko tinggi tanpa perlindungan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni