RADARTUBAN - Tanpa banyak gembar-gembor, TSMC diam-diam mengonfirmasi bahwa chip fabrikasi 2nm (N2) telah memasuki produksi massal pada awal kuartal empat tahun 2025 lalu.
Menurutku perusahaan, chip ini diproduksi di fasilitas Fab 20 dan Fab 22 yang menjadi pabrik chip paling mutakhir di dunia.
Sedangkan teknologi N2 sendiri membawa perubahan besar melalui penggunaan transistor Gate-all-around atau GAA nanosheet menggantikan FinFET.
Arsitektur baru ini diklaim mampu menekan kebocoran arus sekaligus meningkatkan efisiensi data dan performa chip.
Laporan dari Fast Technology mencatat performa N2 meningkat sekitar 10 hingga 15 persen jika dibandingkan dengan proses 3nm N3E yang saat ini beredar di pasaran.
Chip 2nm milik TSMC banyak diprediksi akan menjadi pondasi utama bagi prosesor kelas atas selanjutnya.
Sejumlah nama besar seperti Apple, Qualcomm, dan MediaTek dikabarkan akan mengandalkan chip 2nm untuk prosesor barunya kedepan.
Hanya saja, lompat teknologi ini datang dengan konsekuensi besar, yakni masalah biaya.
TSMC kabarnya akan mematok harga sekitar 30 ribu dolar AS per wafer 2nm. Harga ini jauh diatas wafer 3nm yang berada dikisaran 20 ribu dolar AS.
Kompleksitas proses, hasil nanosheet generasi pertama yang masih rendah, serta investasi pabrik miliaran dolar menjadi faktor utama kenaikan harga ini.
Akibatnya, harga ponsel flagship kedepannya diperkirakan akan ikut naik seiring melonjaknya biaya pembuatan chip 2nm.
Ke depan, jika tingkat produksi membaik dan biaya turun, bukan tak mungkin 2nm akan menjangkau segmen yang lebih luas.
Namun untuk saat ini, chip 2nm adalah simbol performa tertinggi tetapi dengan harga yang sama tingginya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni