RADARTUBAN– Sejarah industri ponsel global mencatat satu fakta keras: tidak ada kejayaan yang abadi.
Data perbandingan pangsa pasar ponsel dunia tahun 2007 dan 2025 menunjukkan betapa brutalnya perubahan zaman. Dalam kurun kurang dari dua dekade, peta kekuatan berbalik nyaris tanpa sisa.
Pada 2007, dunia berada di bawah kendali Nokia. Angkanya tak main-main: 35,82 persen pasar global. Jauh meninggalkan Motorola, Samsung, hingga BlackBerry.
Baca Juga: Bixby Akan Gandeng Perplexity AI, Asisten Suara Samsung Jadi Lebih Pintar
Kala itu, ponsel adalah alat komunikasi. Bukan gaya hidup, bukan ekosistem.
Tahun 2025, ceritanya berubah total.
Nokia Tumbang, Motorola Menyusut
Nama besar yang dulu menggetarkan pasar kini hanya tinggal catatan sejarah. Nokia, yang pernah nyaris tak tersentuh, lenyap dari delapan besar. Sony Ericsson, Palm, hingga LG juga bernasib sama.
Motorola masih bertahan, tapi dengan napas pendek. Dari 17,33 persen di 2007, kini hanya 3,26 persen.
Bukan kebangkitan, melainkan sekadar eksistensi. Industri bergerak terlalu cepat bagi mereka yang gagal membaca arah.
Samsung Bertahan, Apple Mengubah Arah Industri
Di tengah banyaknya korban, Samsung menjadi pengecualian. Dari posisi ketiga pada 2007, raksasa Korea Selatan itu kini memimpin pasar dunia dengan 19,87 persen.
Konsistensi inovasi dan keberanian beradaptasi membuat Samsung lolos dari kuburan merek-merek besar.
Sementara itu, Apple datang sebagai pengubah permainan. Tahun 2007, Apple bahkan belum tercatat.
Namun pada 2025, iPhone menguasai 17,45 persen pasar global. Apple menjual pengalaman, bukan sekadar perangkat—dan dunia membelinya.
Invasi China Tak Terbendung
Perubahan paling mencolok datang dari China. Xiaomi, Vivo, Oppo, dan Realme kini menguasai ceruk besar pasar global.
Mereka tidak datang dengan nostalgia, tapi dengan harga agresif, spesifikasi berani, dan produksi masif. Model bisnisnya jelas: cepat, murah, dan relevan dengan kebutuhan pasar berkembang.
Di sisi lain, Huawei masih bertahan meski terpukul isu geopolitik. Angkanya kecil, tapi keberadaannya menegaskan satu hal: China belum selesai.
Evolusi Teknologi, Seleksi Alam Industri
Data ini bersumber dari akun X @Tradewith_kd dan menjadi cermin kejam industri teknologi. Mereka yang gagal beradaptasi, tersingkir. Mereka yang membaca arah, bertahan. Dan mereka yang berani mendefinisikan ulang pasar, menguasai dunia.
Industri ponsel bukan lagi soal siapa paling dulu. Tapi siapa paling cepat berubah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni