RADARTUBAN - Keamanan siber telah menjadi bagian penting dari kehidupan digital jaman ini. Tetapi pertanyaan terkait seberapa aman dunia digital terus dipertanyakan.
Apalagi belakangan gelombang email yang berisi pengaturan ulang kata sandi yang diterima oleh sebagian pengguna Instagram ternyata bukan tanpa sebab.
Pasalnya, menurut laporan dari perusahaan keamanan siber, Malwarebytes, email tersebut berasal dari dugaan pelanggaran data yang berdampak pada 17,5 akun Instagram.
Dalam temuannya, Malwarebytes menyebut data sensitif yang bocor mencakup nama pengguna, alamat email, nomor telepon, hingga alamat.
Mirisnya lagi, informasi sensitif itu dilaporkan telah beredar dan diperjualbelikan di web gelap yang membuka peluang penyalahgunaan oleh pelaku kejahatan siber.
Perusahaan menjelaskan, kebocoran data ini terdeteksi saat mereka melakukan pemindaian rutin di web gelap.
Diduga insiden ini terkait dengan paparan API Instagram yang terjadi pada tahun 2024 lalu.
Akibatnya, banyak pengguna menerima notifikasi reset kata sandi meskipun mereka tidak pernah mengajukannya.
Kondisi tersebut dinilai cukup berbahaya mengingat data yang bocor dapat dimanfaatkan untuk melakukan serangan lanjutan, seperti phising hingga upaya mengambil alih akun.
Hingga kini, perusahaan induk Instagram, Meta masih bungkam terkait dugaan kebocoran data tersebut.
Kendati begitu, ini bukan pertama kalinya Meta dikaitkan dengan isu keamanan data.
Sebagai langkah pencegahan, pengguna diminta untuk tidak merespon email apapun yang berkaitan dengan permintaan reset kata sandi yang tidak diminta.
Selain itu, mengganti kata sandi juga menjadi hal yang disarankan.
Lebih lanjut, pengguna dapat memeriksa daftar perangkat yang terhubung melalui Pusat Akun Meta untuk memastikan tidak ada aktivitas yang mencurigakan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni