RADARTUBAN - Model AI terbaru buatan OpenAI, yakni GPT-5.2 menuai sorotan setelah laporan investigasi dari The Guardian mempertanyakan kredibilitas sumber yang digunakan oleh chatbot tersebut.
Dalam sejumlah pengujian, GPT-5.2 diketahui mengutip Grokipedia, ensiklopedia berbasis AI yang dijalanyoleh perusahaan xAI milik Elon Musk untuk menjawab topik sensitif.
Guardian menemukan Grokipedia sebagai bahan rujukan GPT-5.1 untuk pembahasan seputar Iran hingga kasus seperti Holocaust.
Salah satunya terkait klaim hubungan pemerintah Iran dengan perusahaan telekomunikasi MTN-Irancell, serta informasi mengenai Sir Richard Evans, sejarawan Inggris yang menjadi saksi ahli dalam persidangan pencemaran nama baik David Irving.
Tetapi menariknya, rujukan ke Grokipedia tidak pernah muncul saat ChatGPT ditanya soal bias media terhadap Donald Trump atau isu kontroversial lain yang lebih umum.
GPT-5.2 sendiri dirilis oleh OpenAI pada Desember lalu yang diposisikan sebagai model unggulan untuk kebutuhan profesional mulai dari pengolahan spreadsheet, hingga tugas kompleks.
Sedangkan Grokipedia diluncurkan pada bulan Oktober 2025 dan telah menuai kritik karena diklaim memuat kutipan dari sunber bermasalah, termasuk forum Neo-Nazi.
Selain itu, ensiklopedia ini tidak membuka ruang penyuntingan manusia layaknya Wikipedia yang membuat kredibilitasnya semakin diragukan.
Dalam pengujian yang dilakukan oleh Guardian, GPT-5.2 mengutip Grokipedia sebanyak sembilan kali dari selusin lebih pertanyaan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran adanya disinformasi karena referensi dari chatbot dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap sumber yang kredibilitasnya diragukan.
Menanggapi temuan tersebut, OpenAI angkat bicara dengan mengatakan GPT-5.2 mencari informasi dari beragam sumber publik.
Selain itu, chatbot ini akan menerapkan filter keamanan untuk meminimalkan risiko konten yang berbahaya.
Meski begitu, para peneliti menilai masuknya informasi bermasalah ke dalam model AI berpotensi sulit dikoreksi dan bisa berdampak jangka panjang pada ekosistem informasi digital. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni