RADARTUBAN - OpenAI kembali menegaskan ambisinya di dunia riset ilmiah dengan merilis Prism, sebuah alat khusus yang berbasis AI.
Tool ini dibuat untuk membantu peneliti dan akademisi menyusun karya ilmiah dengan lebih efisien.
Prism ini diharapkan dapat memberi dampak bagi sains, seperti halnya asisten pengkodean AI yang sebelumnya merevolusi dunia pemrograman.
Prism dibangun OpenAI di atas Crixet, platform LaTeX berbasis cloud yang baru saja diakuisisi oleh perusahaan. LaTeX sendiri merupakan standar utama dalam penulisan jurnal dan dokumen ilmiah.
Kendati begitu, LaTeX kerap dianggap rumit dan memakan waktu, terutama untuk tugas seperti membuat diagram atau bibliografi.
Melalui Prism, peneliti kini mendapat asisten AI berbasis model GPT-5.2 yang tak hanya membantu pemformatan dokumen, tetapi juga mendukung pencarian literatur ilmiah, penyusunan daftar referensi, hingga pembuatan ulang diagram dari sketsa tulisan tangan.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, Prism sanggup menghasilkan materi kuliah dan soal untuk program pascasarjana dalam hitungan menit.
Meskipun terlihat menarik, OpenAI menegaskan bahwa peran AI tidak menggantikan tanggung jawab ilmuwan.
Kevin Weil, Wakil Presiden Sains OpenAI, menyebut pengguna tetap harus memverifikasi keakuratan referensi dan hasil kerja AI itu sendiri.
Lebih lanjut, Kevin Weil menekankan integrasi AI langsung ke alur kerja ilmiah justru penting untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas riset.
OpenAI melihat minat besar terhadap penerapan AI di bidang sains. Perusahaan mencatat, ChatGPT menerima rata-rata 8,4 juta pesan per pekan terkait sains dan matematika tingkat lanjut, dengan pertumbuhan mencapai 47 persen sepanjang 2025.
Prism kini tersedia bagi seluruh pengguna ChatGPT individu, baik gratis maupun berbayar.
OpenAI juga berencana menghadirkannya untuk pengguna bisnis dan pendidikan dalam waktu dekat, memperluas peran AI sebagai mitra kerja para peneliti. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni