RADARTUBAN – Di tengah tekanan kinerja keuangan, Pinterest mencoba mengalihkan sorotan publik dari angka pendapatan ke kekuatan utamanya sebagai mesin pencarian visual.
Pendapatan dan Laba Meleset dari Ekspektasi
Dalam laporan kuartal keempat, Pinterest membukukan pendapatan sebesar 1,32 miliar dolar AS, sedikit di bawah ekspektasi pasar yang berada di angka 1,33 miliar dolar AS.
Laba per saham juga tercatat 67 sen, lebih rendah dari proyeksi 69 sen.
Untuk kuartal pertama 2026, perusahaan mematok proyeksi penjualan di kisaran 951 hingga 971 juta dolar AS, lebih rendah dari harapan pasar sebesar 980 juta dolar AS.
Akibatnya, saham Pinterest sempat anjlok hingga 20 persen dalam perdagangan setelah jam kerja.
Baca Juga: Demi Fokus AI, Pinterest PHK 15 Persen Karyawan, Sekitar 780 Posisi Terdampak
Iklan Melemah, Tarif Furnitur Jadi Tekanan Tambahan
Manajemen menyebut pelemahan kinerja dipicu pengurangan belanja iklan oleh pengiklan besar, terutama di kawasan Eropa.
Selain itu, kebijakan tarif furnitur baru sejak Oktober yang menekan kategori perlengkapan rumah turut memperburuk kondisi.
Perusahaan bahkan memperingatkan tekanan ini berpotensi berlanjut pada awal tahun.
Pengguna Naik, Klaim Lampaui ChatGPT
Di sisi lain, jumlah pengguna justru menunjukkan pertumbuhan positif. Pengguna aktif bulanan meningkat 12 persen secara tahunan menjadi 619 juta, melampaui proyeksi awal sebesar 613 juta.
CEO Pinterest, Bill Ready, menegaskan bahwa platformnya tetap menjadi destinasi pencarian utama.
Ia mengklaim volume pencarian Pinterest mencapai 80 miliar per bulan, melampaui sekitar 75 miliar pencarian bulanan di ChatGPT berdasarkan data pihak ketiga.
Dari total pencarian tersebut, Pinterest menghasilkan sekitar 1,7 miliar klik tiap bulan, dengan lebih dari separuhnya bersifat komersial.
Tantangan Konversi dan Tekanan AI
Meski demikian, tantangan lama Pinterest masih belum teratasi, yakni mengubah aktivitas scrolling menjadi transaksi nyata.
Di era kecerdasan buatan, tekanan semakin besar ketika pengiklan mulai mempertimbangkan platform dengan niat beli lebih jelas seperti chatbot berbasis AI.
Menanggapi hal ini, Bill Ready tetap optimistis. Ia menyoroti fitur pencarian visual, penemuan, personalisasi, serta kemitraan pembayaran dengan Amazon sebagai kekuatan utama Pinterest.
Menurutnya, Pinterest mampu memandu pengguna menyelesaikan perjalanan belanja tanpa perlu mengetik perintah panjang, sekaligus siap beradaptasi dengan tren belanja berbasis AI yang semakin dominan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni