RADARTUBAN - Kampanye Stop Killing Games yang beberapa waktu lalu viral, kini melangkah lebih jauh tidak lagi hanya sekedar gerakan protes semata.
Pasalnya, penggagas gerakan ini, yakni Ross Scott mengumumkan rencana untuk mendirikan dua organisasi non-pemerintah atau LSM di Eropa dan AS.
Dalam sebuah video, Scott mengatakan bahwa perjuangan untuk menentang praktik pencabutan akses game yang sudah dibeli bisa dimenangkan.
LSM tersebut akan mendorong petisi Stop Killing Games untuk disusun menjadi hukum di Uni Eroa sekaligus memperkuat pengawasan terhadap penerbit games.
Gerakan ini berawal dari keputusan Ubisoft yang menghapus game The Crew dari perpustakaan pemain.
Langkah tersebut memicu kekhawatiran mengenai dominasi penerbit atas kepemilikan game yang sudah dibeli oleh pemain.
Sejak saat itu, petisi Stop Killing Games berhasil mengumpulkan sekitar 1.3 juta tanda tangan, yang memaksa Uni Eropa untuk mempertimbangkan petisi tersebut.
Scott menyatakan bahwa timya akan bertemu dengan perwakilan dari Komisi Eropa dan tengah menyusun dokumen hukum setebal 500 halaman yang mengulas praktik konvensional di industri game.
Tekanan publik ini juga memaksa Ubisoft untuk menghadirkan mode offline di pembaruan game The Crew 2.
Kendati CEO Ubisoft, Yves Guillemot pernah mengatakan tidak ada yang abadi, tetapi dia berjanji perusahaannya tidak akan melakukan praktik serupa.
Kedepannya, operasional LSM Stop Killing Games ini akan dipimpin oleh tokoh politik Jerman, Moritz Katzner sedangkan Scott akan tetap terlibat meskipun berada dibalik layar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni