RADARTUBAN - Belakangan Pentagon dikabarkan mulai melirik Grok, chatbot buatan xAI yang merupakan perusahaan milik Elon Musk. Ketertarikan Pentagon tersebut tak lepas dari kebutuhan AI untuk digunakan pada sistem rahasia Departemen Pertahanan AS.
Langkah ini muncul di tengah ketegangan antara Pentagon dan Anthropic, pengembang Claude terkait batasan penggunaan teknologi AI.
Claude sebelumnya menjadi satu-satunya model AI yang diizinkan untuk menangani tugas palinh sensitif militer AS, seperti intelijen hingga operasi medan perang.
Hanya saja, Anthropic menolak permintaan Pentagon agar Claude digunakan untuk seluruh "tujuah sah" termasuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom.
Berbeda dengan Anthropic, xAI disebut lebih terbuka dengan syarat dari Pentagon itu. Perusahaan menyetujui standar yang memungkinkan Grok untuk dipakai dalam berbagai kebutuhan yang dinilai dah oleh pemerintah AS.
Sikap tersebut, membuat Pentagon mulai mempertimbangkan Grok sebagai alternatif, meskipun banyak pejabat AS menilai kemampuan Grok belum setara dengan Claude.
xAI sendiri telah menyiapkan versi Grok khusus lembaga pemerintah sejak tahun 2025 kemarin. Hanya saja, membawa teknologi chatbot ke dalam sistem militer membutuhkan standar yang jauh lebih ketat serta membutuhkan penerapan secara lokal.
Pentagon menegaskan penggunaan Grok di lingkup militer AS tidak berarti Elon Musk atau xAI memilik akses ke data sensitif negara.
Meski begitu, Pentagon tetap membuka opsi lainnya. Apalagi negosiasi dengan OpenAI dan Google terus berjalan, dan bahkan dilakukan dengan rasa urgensi.
Tetapi hingga saat ini, xAI masih menjasi satu-satunya mitra yang telah dikonfirmasi oleh Pentagon.
Keputusan ini memicu banyak sorotan dari berbagai pihak, mengingat Grok sempat menuai berbagai kontroversi dan tampil buruk di sejumlah pengujian.
Situasi ini membuat wacana penggunaan Grok untuk militer menjadi bahan perdebatan tersendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni