RADARTUBAN - Perusahaan yang menaungi ChatGPT, OpenAI dilaporkan resmi menjalin kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS untuk membawa model AI-nya itu ke sistem rahasia pemerintah.
Kerja Sama AI dengan Pentagon Resmi Diumumkan
Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh CEO OpenAI, Sam Altman melalui unggahannya di platform X (sebelumnya Twitter).
Dalam pernyataannya, Altman mengatakan kerja sama ini tetap berpegang teguh pada dua prinsip, yakni larangan digunakan untuk pengawasan massal dan penggunaan pada senjata otonom.
Menurut Altman, dua prinsip tersebut telah dimasukkan dalam kontrak dan disetujui oleh Departemen Pertahanan atau dalam era Trump disebut Departemen Perang.
Baca Juga: OpenAI Garap Speaker Pintar Bertenaga AI, Siap Tantang Google dan Apple
Muncul di Tengah Konflik Pentagon dan Anthropic
Kesepakatan ini muncul di tengah konflik antara Pentagon dengan Anthropic. Hal tersebut bermula ketika Anthropic menolak permintaan AS untuk menggunakan model AI untuk digunakan dalam praktik pengawasan massal dan senjata otonom.
Sikap tersebut membuat Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth melabeli Anthropic sebagai "risiko rantai pasokan" yang membuat pengguna produknya dihentikan oleh lembaga federal AS.
OpenAI Klaim Tetap Pegang Prinsip Keamanan
Menariknya, OpenAI mengklaim telah berhasil mencapai titik temu dengan pemerintah AS tanpa mengorbankan prinsip keselamatannya.
Altman menyebut OpenAI membangun pengaman tersebut serta mengirimkan insinyur untuk bekerja langsung dengan Pentagon guna memastikan model AI-nya digunakan sesuai aturan.
Langkah ini juga beririsan dengan strategi infrastruktur OpenAI. Perusahaan itu baru saja mengumumkan kemitraan dengan Amazon untuk menjalankan modelnya di Amazon Web Services, membuka kemungkinan pemanfaatan cloud tersebut dalam kerja sama dengan pemerintah AS.
Perdebatan Etika AI Militer Kian Menguat
Di sisi lain, Anthropic tetap bersikukuh pada pendiriannya dan menyatakan siap menantang penetapan “risiko rantai pasokan” di pengadilan.
Polemik ini menyoroti perdebatan global soal batas etis penggunaan AI dalam sektor militer, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni