Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Konten AI Membanjiri YouTube, 200 Pakar Desak Google Batasi Video untuk Anak di Bawah Umur

Andika Julia Perdana Putra • Jumat, 3 April 2026 | 08:40 WIB
YouTube tuai kritik setelah banyaknya konten AI yang direkomendasikan untuk anak. (NordWood Themes/Pinterest)
YouTube tuai kritik setelah banyaknya konten AI yang direkomendasikan untuk anak. (NordWood Themes/Pinterest)

RADARTUBAN - Kecerdasan buatan atau AI telah menjadi fenomena global yang menuai banyak kontroversi.

Terbaru, lebih dari 200 pakar perkembangan anak dan kelompok advokasi mendesak Google untuk mengambil langkah tegas terhadap banyaknya video AI di YouTube, khususnya yang ditujukan untuk anak-anak.

Seruan ini disampaikan langsung melalui surat terbuka yang dikirim kepada CEO Alphabet, Sundar Pichai dan CEO YouTube, Neal Mohan. 

Dalam surat tersebut, para ahli meminta Google untuk menghentikan rekomendasi video berbasis AI kepada pengguna di bawa usia 18 tahun.

Baca Juga: Viral! Remaja Gugat YouTube dan Meta di AS, Ngaku Mental Rusak Sejak Main Medsos di Usia Dini

Selain itu, mereka juga meminta perusahaan untuk tidak menampilkan video serupa di platform YouTube Kids.  

Koalisi yang menandatangani surat itu mencakup berbagai organisasi seperti Federasi Guru AS dan sejumlah akademisi serta psikolog perkembangan anak.

Mereka menilai maraknya video AI berkualitas rendah sebagau bentuk "eksperimen tak terkendali" kepada anak-anak yang masih berada ditahap perkembangan.

Para peneliti menyoroti adanya fenomena yanh disebut sebagai AI slop, yakni konten video sintetis yang diproduksi secara massal dengan kualitas rendah.

Video semacam itu sering kali dipenuhi oleh efek visual yang merangsang, sehungga membuat anak terpaku pada layar tanpa mendapatkan manfaat edukatif.

Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi rentang perhatian anak, bahkan menggantikan interaksi sosial di dunia nyata.

Surat tersebut juga menyebut sekitar 40 persen rekomendasi video serelah anak menonton program pra sekolah dapat berisi konten yang dihasilkan oleh AI. 

Kondisi ini memicu risiko karena konten serupa terkadang juga muncul dipencarian bertema pendidikan fan menggunakan tag ramah anak.

Pihak YouTube mengatakan mereka telah mengambil beberapa langkah pengamanan. Perusahaan mewajibkan kreatir memberikan label pada konten yang dimodifikasi atau dihasilkan oleh AI. 

Selain itu, perusahaan juga membatasi konten AI hanya pada kanal yang telah diverifikasi.

Kendati begitu, para kritikus menilai langkah tersebut belum cukup efektif untuk mengurangi paparan konten AI bagi anak-anak anak dibawah umur. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kualitas konten #AI #youtube #google #anak-anak