RADARTUBAN - Salah atu platform konferensi daring, Zoom resmi menggandeng World guna memperkuat keamanan rapat virtual dari ancaman deepfake berbasis AI yang kini kian marak terjadi.
Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan seetiap peserta rapat yang hadir benar-benar merupakan manusia asli dan bukan hasil rekayasa dari kecerdasan buatan.
Langkah ini muncul ditengah banyaknya kasus penipuan digital yang memanfaatkan video deepfake.
Salah satu insiden pada tahun 2024 lalu membuat perusahaan teknik Arup kehilangan sekitar 25 juta dolar AS usai seorang karyawannya tertipu rapat virtual palsu.
Dalam kasus tersebut, seluruh peserta selain korban diketahui merupakan hasil buatan AI.
Baca Juga: Meta Gugat Jaringan Penipuan Deepfake AI yang Menjebak Pengguna Facebook dan Instagram
Dalam laporan terbaru, secara global kerugian akibat penipuan berbasis deep fake diperkirakan menacapai 200 juta dolar AS hanya dalam satu kuartal.
Sedangkan rata-rata kerugian yang dialami per saru kasus ditaksir sekitar 500 ribu dolar AS. Hal ini menjadikannya sebagai ancaman serius bagi perusahaan, erutama bagi yang sering melakukan rapat virtual melalui video.
Untuk mengatasi hal tersebut, World menghadirkan teknologi World ID Deep Face yang mengandalkan tiga lapisan verifikasi. Sistem ini akan mencocokan data wajah melalui perangkat Orb, pemindaian real-time wajah pengguna, serta tampilan video langsung selama rapat.
Jika keetiganya seusai, pengguna akan mendapatkan tanda "Verified Human".
Zoom sendiri akan menyediakan fitur tambahan seperti ruang tunggu untuk verifikasi yang mengharuskan peserta melewati pemeriksaan identitas sebelum masuk ke rapat.
Bahkan kabarnya peserta dapat meminta verifikasi identitas ke perserta lain saat rapat tengah berlangsung.
Menurut juru bicara Zoom, Travis Isaman, integrasi ini menjadi bagian dari strategi ekosistem terbuka perusahaan untuk membangun kepercayaan dalam komunikasi digital.
Selain Zoom, World juga telah menjalin kemitraan dengan berbagai platform lain seperti Tinder dan Visa guna memperluas penerapan verifikasi identitas manusia di era AI. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni