RADARTUBAN - Google kembali mendorong integrasi AK ke lebih banyak layanannya. Kali ini, platform video YouTube menjadi sasaran uji coba fitur baru bernama “Ask YouTube”, yang disebut akan mengubah cara pengguna mencari konten.
Berbeda dari pencarian konvensional yang hanya menampilkan daftar video, fitur ini memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan kompleks layaknya percakapan.
Nantinya, sistem akan menyajikan jawaban dalam bentuk ringkasan teks, lengkap dengan rekomendasi video dan penanda waktu yang relevan.
Baca Juga: Google Health Premium Bocor, Era Baru Layanan Kesehatan Digital Dimulai
Fitur eksperimental ini saat ini hanya tersedia bagi pelanggan Premium di Amerika Serikat berusia 18 tahun ke atas, melalui program uji coba di YouTube Labs hingga tanggal 8 Juni.
Dalam praktiknya, pengguna bisa mengetik pertanyaan seperti sejarah singkat misi Apollo 11, kemudian langsung mendapatkan rangkuman informasi penting, termasuk tanggal pendaratan serta momen langkah pertama Neil Armstrong, tanpa harus membuka banyak video satu per satu.
Tak hanya itu, sistem juga mendukung pertanyaan lanjutan. Misalnya, saat merencanakan perjalanan, pengguna bisa menggali informasi lebih dalam dari hasil awal yang ditampilkan, mulai dari rute hingga rekomendasi video terkait.
Meski menjanjikan kemudahan, uji coba awal menunjukkan bahwa AI belum sepenuhnya akurat.
Pasalnya, dalam beberapa kasus, hasil pencarian masih memuat informasi yang keliru, menandakan teknologi ini masih dalam tahap pengembangan.
Respons publik terhadap konten berbasis AI di YouTube cenderung beragam. Sebagian pengguna mengkhawatirkan maraknya konten tidak berkualitas.
Namun, Google menegaskan bahwa fitur ini bukan untuk membuat video, melainkan membantu pengguna menemukan konten terbaik dengan lebih cepat.
Ke depan, keberhasilan “Ask YouTube” akan sangat bergantung pada akurasi dan kepercayaan pengguna.
Jika dinilai membantu, bukan tidak mungkin fitur ini akan diperluas ke lebih banyak pengguna.
Sebaliknya, jika hasilnya dianggap kurang memuaskan, fitur ini bisa saja bernasib seperti eksperimen lain yang akhirnya dihentikan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni