RADARTUBAN - Spotify sepertinya tidak puas jika hanya menyediakan layanan streaming musik. Pasalnya, platform tersebut terus memperluas perannya di luar industri yang mereka kuasai.
Kali ini Spotify merambah dunia kebugaran dengan menghadirkan fitur latihan terpandu langsung di dalam aplikasi, menandai langkah baru menuju layanan all-in-one berbasis gaya hidup.
Melalui fitur “guided workout experiences”, pengguna bisa mengikuti sesi olahraga dalam format video maupun audio.
Baca Juga: Daftar Lagu Jawa Hits yang Mendominasi FYP TikTok dan Populer di Sportify Hingga YouTube
Konten tersebut tersedia di berbagai perangkat, mulai dari ponsel, komputer, hingga TV.
Bahkan, pengguna dapat berpindah perangkat secara mulus, misalnya memulai latihan di TV lalu melanjutkan dalam versi audio di ponsel atau speaker pintar.
Beberapa kelas juga bisa diunduh untuk digunakan secara offline.
Selain itu, Spotify juga menghadirkan Fitness hub yang memudahkan pengguna menemukan konten olahraga berdasarkan kategori seperti cardio, yoga, pilates, hingga meditasi.
Fitur ini terbuka untuk pengguna gratis maupun Premium, meski pelanggan berbayar mendapat keuntungan tambahan.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Peloton. Pelanggan Premium kini dapat mengakses lebih dari 1.400 kelas on-demand, mencakup berbagai jenis latihan seperti lari, strength training, hingga meditasi.
Menariknya, kelas ini tetap bisa diikuti tanpa harus memiliki perangkat khusus dari Peloton.
Mayoritas konten saat ini tersedia dalam bahasa Inggris, dengan beberapa pilihan dalam bahasa Spanyol dan Jerman.
Spotify menilai langkah ini relevan, mengingat sekitar 70 persen pelanggan Premium mereka rutin berolahraga setiap bulan.
Ekspansi ini sekaligus mempertegas ambisi Spotify untuk masuk ke ranah wellness dan lifestyle.
Apalagi sebelum ini, perusahaan juga telah menambahkan fitur di luar musik seperti podcast, pembelian buku fisik, hingga obrolan grup.
Meski peluangnya besar, tantangan tetap ada. Spotify harus bersaing dengan platform kebugaran lain yang lebih dulu mapan.
Tetapi, dengan basis pengguna yang sudah terbiasa mendengarkan musik saat berolahraga, integrasi latihan terpandu ini bisa menjadi evolusi alami, dari sekadar mendengar, menjadi ikut bergerak. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni