RADARTUBAN - Sony resmi mengakhiri perjalanan Destruction AllStars, salah satu game yang sempat menjadi wajah awal peluncuran konsol PlayStation 5.
Setelah lebih dari lima tahun hadir, game balap arena penuh tabrakan tersebut kini tidak lagi tersedia untuk dibeli dan layanan multipemainnya resmi dihentikan.
Melalui pemberitahuan yang disampaikan kepada pemain, Sony menyatakan bahwa layanan online Destruction AllStars tidak akan kembali aktif karena kendala teknis yang masih berlangsung.
Mulai 26 Mei 2026, game beserta mata uang virtualnya, Destruction Points, telah dihapus dari penjualan di PlayStation Store.
Baca Juga: PS5 Pro Kebagian Update Besar, Teknologi PSSR Bikin Grafis Game Makin Tajam
Meski mode multipemain telah berakhir, pemain yang sudah memiliki game ini masih dapat mengakses sebagian konten pemain tunggal hingga 25 November 2026.
Setelah tanggal tersebut, seluruh dukungan server akan dimatikan dan hanya menyisakan Mode Arcade yang masih bisa dimainkan, meskipun dengan kemungkinan fitur yang terbatas.
Destruction AllStars pertama kali diumumkan Sony pada 2020 sebagai bagian dari acara pengenalan PS5.
Game garapan Lucid Games itu mengusung konsep pertarungan kendaraan bergaya arena yang penuh aksi dan sempat diposisikan sebagai salah satu judul penting untuk generasi konsol terbaru.
Awalnya game ini direncanakan sebagai judul peluncuran dengan harga penuh, tetapi kemudian ditunda ke Februari 2021 dan dialihkan menjadi bonus untuk pelanggan PlayStation Plus.
Strategi tersebut diharapkan mampu menarik basis pemain yang lebih besar.
Namun kenyataannya, respons pasar tidak sesuai harapan. Banyak pemain menilai konten game terlalu minim dan terlalu cepat dipenuhi mikro transaksi di dalamnya.
Di tengah persaingan ketat dengan game live services dan judul gratis lain seperti Rocket League, Destruction AllStars gagal mempertahankan komunitas aktif dalam jangka panjang.
Penutupan ini menjadi bagian dari serangkaian perubahan strategi Sony di ranah game layanan langsung setelah sejumlah proyek lain juga mengalami pembatalan dan kegagalan dalam beberapa tahun terakhir. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni