RADARTUBAN - Setelah menjadi perbincangan hangat selama beberapa pekan, Meta memutuskan menghentikan sementara program internal bernama Model Capability Initiative (MCI) setelah muncul kekhawatiran terkait keamanan data karyawan.
Program tersebut sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan aktivitas digital pekerja guna membantu pelatihan model AI perusahaan.
MCI mulai diterapkan pada April lalu dan merekam berbagai aktivitas di komputer karyawan yang berbasis di Amerika Serikat, termasuk pergerakan mouse, klik, hingga penekanan tombol.
Data tersebut kemudian digunakan untuk membantu pengembangan teknologi AI milik Meta.
Baca Juga: Meta Longgarkan Pelacakan Aktivitas Karyawan untuk Pelatihan AI Setelah Tuai Kritik
Hanya saja, investigasi internal menemukan bahwa sebagian data sensitif yang dikumpulkan melalui sistem tersebut berpotensi dapat diakses oleh seluruh karyawan Meta.
Dokumen internal yang ditinjau Reuters menyebut data yang terekspos mencakup percakapan pribadi, transkrip interaksi, informasi kinerja karyawan, hingga tingkat sensitivitas data perusahaan.
Keputusan penghentian sementara diambil setelah seorang karyawan mengajukan laporan insiden keamanan prioritas tinggi atau SEV.
Dalam laporan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa data pribadi yang seharusnya dilindungi justru dapat diakses secara lebih luas dari yang semestinya.
Juru bicara Meta, Tracy Clayton, mengatakan perusahaan telah merancang program tersebut dengan berbagai perlindungan privasi.
Meski sejauh ini belum ditemukan bukti adanya penyalahgunaan data oleh karyawan, Meta memilih menghentikan sementara operasional MCI selama proses penyelidikan berlangsung.
Laporan sebelumnya juga mengungkap bahwa program tersebut mengumpulkan informasi lebih banyak dari yang dijelaskan pada awal peluncuran.
Apalagi sebagian data dilaporkan disimpan tanpa enkripsi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai privasi dan keamanan informasi internal.
Kasus ini menambah daftar tantangan Meta dalam pengelolaan keamanan sistem berbasis AI.
Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan juga menghadapi sejumlah insiden lain yang melibatkan teknologi AI, termasuk masalah keamanan pada agen AI dan chatbot layanan pelanggan yang sempat dieksploitasi peretas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni