Ancaman Nyata AI di Dunia Kerja: Pekerja Mulai Latih Robot yang Akan Menggantikan Posisi Mereka

Nadia Aulia • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:36 WIB
Tangkapan layar kreator konten Koi Ananda (Koyuki) dari kanal YouTube "Sepulang Sekolah" saat membahas fenomena otomasi di industri global. (YouTube Sepulang Sekolah)
Tangkapan layar kreator konten Koi Ananda (Koyuki) dari kanal YouTube "Sepulang Sekolah" saat membahas fenomena otomasi di industri global. (YouTube Sepulang Sekolah)

RADARTUBAN – Gelombang pesat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini bukan lagi sekadar cerita teknologi masa depan.

Dampak nyata efisiensi teknologi tersebut kian terasa dan membayangi peta ketenagakerjaan global hingga ke tingkat daerah, khususnya pada sektor pekerjaan repetitif yang selama ini menjadi sandaran hidup masyarakat.

Fenomena mengkhawatirkan ini diulas secara mendalam oleh kreator konten Sepulang Sekolah, Koi Ananda atau yang akrab disapa Koyuki, dalam kanal YouTube miliknya.

Baca Juga: Etika Anak Muda Mulai Luntur di Era Digital? Kebiasaan Main HP dan Chat Jadi Sorotan Pakar

Dia membeberkan fakta getir mengenai praktik otomasi di industri global, tempat para pekerja di sektor manufaktur hingga layanan jasa mulai diminta merekam aktivitas harian serta memasang sensor di tubuh saat bekerja.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data pergerakan secara presisi. Data visual tersebut lantas diolah oleh perusahaan pembuat model kecerdasan buatan untuk melatih robot dan Agentic AI agar mampu meniru serta mengotomatisasi pekerjaan manusia secara sempurna.

"Bagi saya, bekerja di sini rasanya seperti sedang menggali kuburan dan membuat peti mati saya sendiri," ujar seorang pekerja pabrik di pinggiran Delhi, India, menggambarkan getirnya situasi tersebut.

Menanggapi fenomena pekerja yang harus merekam aktivitasnya demi melatih sistem otomasi, Koyuki menilai situasi tersebut sangat ironis bagi para pekerja.

"Ini kebayang kan, kalian mengajari robot yang nantinya menggantikan posisi kalian di perusahaan? Nyesek, nyesek banget," ujar Koyuki dalam unggahan videonya.

Menurut pemaparannya, kondisi ini mempertegas hadirnya kiamat kecil (kiamat sugro) di dunia kerja. Sektor layanan berbasis Business Process Outsourcing (BPO), call center, telemarketing, hingga tenaga administrasi dasar menjadi area paling rentan tergantikan.

Di negara penyedia tenaga kerja outsource seperti India dan Filipina, perusahaan raksasa bahkan memangkas puluhan ribu karyawan demi mengalihkan anggaran ke pengembangan AI.

Tak berhenti di mancanegara, Koyuki menyoroti bahwa efisiensi berbasis AI ini sudah merambah ke dalam negeri. Langkah pemangkasan massal yang dilakukan ByteDance terhadap Tokopedia menjadi contoh nyata yang mengejutkan.

Sekitar 90 persen divisi teknologi dipangkas habis-habisan; jumlah staf ahli (engineer) yang semula berjumlah sekitar 1.100 orang kini hanya menyisakan sekitar 35 orang saja.

Tugas teknis kompleks kini dialihkan ke Agentic AI yang mampu melakukan pemrograman, perbaikan bug, hingga pengawasan sistem secara mandiri dengan intervensi manusia yang amat minimal.

Baca Juga: Etika Anak Muda Mulai Luntur di Era Digital? Kebiasaan Main HP dan Chat Jadi Sorotan Pakar

Pada akhirnya, situasi ini melahirkan dilema yang cukup getir. Di satu sisi, kehadiran teknologi AI memang berpotensi membuka banyak lowongan kerja baru yang serba canggih. Namun di sisi lain, kemampuan (skill) sebagian besar pekerja lokal masih jauh dari kualifikasi tersebut.

Bagi pekerja kelas bawah atau lulusan daerah yang belum menguasai literasi digital dasar, alih profesi secara mendadak jelas terasa mustahil karena terkendala biaya dan waktu.

Tanpa adanya peningkatan kapasitas sejak dini, pergeseran teknologi ini dikhawatirkan kian memperlebar ketimpangan sosial-ekonomi masyarakat. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Tuban
AI dunia kerja ancaman robot